Kumpulan Cerita Pendek

Posted on

Kumpulan Cerita Pendek
Kumpulan Cerita Pendek

Kumpulan Cerpen –  Bagi yang gemar mebaca pasti tahu betul tentang cerpen. Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis. Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur.

Untuk para penggemar cerpen, berikut ini terdapat sejumlah cerpen yang dikutip dari Cerpenmu

[su_spoiler title=”Cinta Tapi Gak Mau Pacaran” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Pagi itu kelas 11 IPA 4 sedang pelajaran olahraga. Semua perempuan pergi ke wc untuk ganti baju. Sedangkan laki-laki ganti bajunya di kelas. Setelah ganti baju, semuanya pun ke lapangan.

Sekarang olahraganya adalah tes lari. Yang pertama dites adalah perempuannya dulu. Sedangkan laki-laki menunggu perempuannya selesai. Sambil mereka menunggu perempuannya selesai, mereka bermain sepak bola dulu.
“Pak, dites larinya berapa keliling?” Tanya Fandra.
“Lima.” jawab pak Slamet.
“Baik, absen 1-10 cepat berbaris!” Teriak pak Slamet.

Karena Kirana absen 23, dan ditesnya masih lama, dia dan Melly pun duduk di depan anak laki-laki yang sedang main bola.
“Eh, Andre suka sama kamu lho!” Kata Melly sambil menyenggol Kirana.
“Terus?” Tanya Kirana dingin.
“Ya, dia suka sama kamu.” Jawab Melly
“Oh.” Jawab Kirana singkat.
“Kamu ini urusan cowok selalu saja cuek.”
“Jadi, gue harus bilang WOW gitu?”
“Ya sok!”
“Wow!” Kata Kirana singkat padat dan jelas. Sahabatnya yaitu Melly pun hanya bisa menghela nafas saja.
Kirana tidak peduli dengan omongan Melly. Soalnya gak penting. Tapi, walaupun begitu menurut dia Andre itu ganteng dan keren. Tapi, Kirana masih ragu apakah dia cowok yang baik apa enggak.
Karena katanya sih dia itu play boy. Jadi, Kirana tidak peduli, mau dia suka dengannya lah apalah, karena itu pasti kebohongan dia yang sudah biasa.

Tiba-tiba Diana menghampiri Kirana dengan wajah yang menyeramkan seperti habis operasi plastik tapi gagal haha.
“Heh, Kirana! Kamu jangan sok deketin Andre lah! Dia itu pacarku.” Sahut Diana dengan kesal.
“Pacarmu? Bukannya udah putus ya?” Ejek Melly.
“Diam kamu! Aku gak punya urusan denganmu!”
“Biarin wleee.” Ejek Melly.
“Denger ya Kirana, aku putus itu gara-gara kamu tau!” Diana menunjuk pada Kirana.
“Aku? Gara-gara aku?” Kirana mununjuk pada dirinya sambil terheran-heran.
“Ya!” jawab Diana geram.
“Asal kamu tahu ya, aku itu tidak suka sama Andre si play boy. Jadi, ngapain aku deketin dia?” Kata Kirana ketus.
“Pembohong!” kata Tiara sahabatnya Diana.
“Aku tidak bohong. Memang aku tidak suka dengan dia. Aku tidak suka kriteria cowok play boy macam dia. Dianya aja yang deketin aku.”
“Denger ya, anak baru. Beraninya kamu jadi pacar dia, gue hajar!”
“Heh, Mbak! Mbakekok! Jangan mentang-mentang kamu anak karate, main hajar orang!” kata Melly.
“Masalah buat loe?! Udah yuk, teman-teman! Kita cabut aja! Di sini ada dua tikus menjijikan yang kerjanya hanya bikin ulah terus sama kita!” Diana dan teman-temannya pun langsung pergi dengan centil. Kirana dan Melly membiarkan mereka pergi, walaupun Kirana dan Melly sedikit kesal dengan mereka. Karena merekalah yang kerjanya bikin ulah mulu.

Sekarang giliran absen 21-30 yang dites. Kirana, Melly dan yang lain pun langsung bersiap-siap. Ketika semuanya sudah siap, peluit pun ditiup, dan anak-anak berlari dengan sekuat tenaga. Ketika Kirana baru berlari tiga keliling lapangan, dada Kirana terasa sesak. Dia sudah tidak kuat lagi. Nafasnya terdengar bunyi ngik-ngik. Kepalanya pusing, dan tiba-tiba dia jatuh.

“Kirana! Bangun..!!” Teriak Melly.
Kirana langsung bangun ketika mendengar suara Melly memanggilnya. “Alhamdulillah, kamu sudah sadar.” Sahut Melly gembira. “Aku di mana Mel?” Tanya Kirana sambil memaksa untuk bangun, dan ternyata ada Andre di sebelahnya, dan dia menyuruh Kirana agar tidak bangun dulu. Kirana jadi gugup ketika ada Andre di sebelahnya.
“Tadi asma kamu kambuh terus kamu pingsan. Lalu ditolong sama Andre, dan dibawa ke sini.” Jawab Melly.
“Ooo, gitu. Makasih ya, Ndre.” Kata Kirana langsung melempar senyum malu-malu.
“Sama-sama.” Andre tersenyum juga. Tiba-tiba Kirana jadi deg-degan ketika dia berada di dekat Andre. Kenapa bisa? Biasanya dia gak suka begitu kalau berjumpa dengan Andre. Malah kalau dia nyapa Kirana, Kirana malah suka nyuekin. Andre senyum ke Kirana saja malah dibalas wajah cemberut dengan mata ndelekin. Ya, Kirana berbuat begitu soalnya biar gak ada cowok yang mau sama dia. Kan mana ada cowok yang mau sama cewek yang SUPER JUTEK banget kayak dia? iya kan? Namanya juga anak sholehah, pasti menjaga yang mana makhrom dan mana yang bukan makhromnya. Jadi dia gak berani deket sama temen-temen cowok di kelasnya.

“Emm, Kirana. Aku balik dulu, ya? Soalnya mau dites nih? Gak papa kan ditinggal?” Tanya Andre.
“Oh, iya gak papa kok.” Jawab Kirana lembut.
“Oke, bye..” Andre pun pergi ke lapangan. Melly melihat Kirana yang sedang memandangi Andre terus sampai dia menghilang dari balik pintu.
“Hey..” Melly menyenggol Kirana.
“Hah? apa?” Kirana kaget.
“Kamu suka ya, sama dia?”
“Enggak!”
“Masaa?”
“Apaan sih kamu? Udah sana, ganggu orang lagi istirahat aja.”
“Alesan.” Melly pun langsung pergi.

Kirana menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan-lahan. Lalu dia memegang dadanya. Uh, rasanya berdetak dengan kencang. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah Andre adalah cinta pertamanya?

Ketika bel pulang sekolah sudah dibunyikan, semua siswa sibuk keluar dari kelasnya masing-masing. Lalu Kirana melihat Andre dengan motornya di depan gerbang. Karena Andre sudah menolong dia, dia pun menghampiri Andre.
“Hey, Ndre. Nunggu siapa?” Tanya Kirana lembut.
“Nungguin kamu.” Jawab Andre. Kirana langsung kaget.
“Hah!? Nungguin aku? Ngapain?” Tanya Kirana lagi.
“Ya, tadi kan kamu pingsan, terus aku mau nganterin kamu sampai rumah, soalnya aku takut kamu pingsan lagi di jalan.” Kirana langsung terharu mendengar ucapan Andre, tapi dia malah menolaknya.
“Iiih gak usah!” Tegur Kirana.
“Loh kenapa?” Tanya Andre bingung.
“Cukup sederhana alasanku tidak mau pulang bersamamu.”
“Ya apa?”
“Karena kita ini bukan mukhrim Ndre. Tenang aja aku bisa pulang sendiri kok.”
“Hmm ya, udah deh kalau kamu emang gak mau. Hati-hati ya di jalan. Kalau jatuh mention aku yaa, hehe.” Kata Andre nyengir.
“Hmm udah sana pulang!” Bentak Kirana.
“Iya-iya.” Kata Andre yang langsung menaiki motornya.

Andre pun langsung menyalakan motornya dan dia melihat Kirana lalu tersenyum, dan ini baru pertama kalinya Kirana membalas senyuman Andre.

Ketika Andre sudah pergi, Kirana pun langsung pulang menggunakan taxi. Soalnya kalau jalan kaki kan takut pingsan lagi.

Ketika di rumah, Kirana masih teringat kejadian tadi di sekolah. Baru kali ini dia jadi galau gara-gara cinta. “Astagfirullah apa yang aku pikirkan? Ini tidak ada manfaatnya aku memikirkan dia terus. Mendingan aku pergi ke dapur untuk membantu ibu saja.” Lalu Kirana pun bergegas pergi ke dapur.

Ketika di dapur, ibunya menyuruh dia memotong wortel. Saking jagonya motong tu wortel, dia sama sekali gak melihat ketika motongin wortel, ya akhirnya jari dia keiris sama pisau. Ibunya melihat Kirana memegang jarinya yang berdarah langsung menghampirinya.
“Ya, ampun Kirana..?” Ibunya langsung mengambil obat merah dan kapas. Lalu dituangkan obat merahnya ke kapas dan diusapkan kebagian yang luka.
“Hati-hati dong nak.” Kata ibunya lagi.
“Iyah bu.” Jawab Kirana.
“Kenapa bisa begini? Kamu pasti melamuni sesuatu ya?”
“Engga kok Bu.” Kirana menggeleng kepala.
“Jangan bohong, gak baik tahu bohongin orang, apalagi ke ibunya sendiri.”
“Ih, Ibu jangan nakut-nakutin dong.”
“Ya, udah ceritakan ke Ibu, Ibu kan jadi penasaran.”
“Tapi Ibu jangan marah ya?”
“Iyah, ngapain juga ibu marah?”
“Jadi, begini Bu, Kirana lagi jatuh cinta.” Ibunya melongo, dan tiba-tiba ibunya tertawa.
“Hahahaha.”
“Ibu..?” Kirana mesem.
“Haha, maaf. Habis kamu itu lucu. Hmm, jadi kamu jatuh cinta nih? Ke siapa?”
“Ya, rahasia dong, Bu.”
“Hmm gak papa kamu jatuh cinta. Ya, wajarlah, anak segede kamu emang suka begitu. Tapi jangan sampai pacaran ya. Ingat!” Ibunya langsung mengancungkan jari telunjuknya.
“Iya, aku juga tau kok Bu.”
“Bagus. Ya, sudah sekarang kamu mandi sana. Sekarang kan kamu mau mengajar anak-anak di pengajian.”
“Oia, aku sampai lupa.” Kirana pun berlari mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, dia ganti baju, dan mengambil setumpuk iqro lalu berangkat.

Ketika selesai pulang mengajar, Kirana melihat Andre di depan rumah. Ngapain dia ke sini? batin Kirana. Lalu Kirana menghampiri Andre.
“Ngapain kamu ke sini?” Tanya Kirana bingung.
“Eh, Kirana. Ini aku mau mengembalikan bukumu. Waktu itu aku lupa. Maaf, ya.” Kirana mengambil buku itu dari tangan Andre sambil mengangguk.
“Gak papa kok Ndre. Santai aja kali. Oia gak masuk dulu?” Tanya Kirana sambil menunjuk ke dalam rumah.
“Nggak usah, soalnya aku buru-buru nih mau nganterin paman ke bandara.”
“Ooo ya, udah. Hati-hati ya!” Andre mengangguk dan langsung menyalakan motor.
Ketika mau pergi, Andre senyum dan melambaikan tangan ke arah Kirana. Dia pun membalasnya.

Ketika Andre sudah pergi, tiba-tiba datang adiknya Kirana. Ternyata dari tadi dia mengintip mereka berdua dari jendela.
“Cie-ciee siapa tuh?” goda Kamilia
“Teman.” Jawab Kirana.
“Teman atau pacar?”
“Mau tau aja atau mau tau banget?” Kirana gak mau kalah.
“Ah, Mbak nih malah balik tanya.”
“Habis kamu kepo banget.” Kata Kirana mulai sebal.
“Gak papa dong. Dari pada Mbak gak kepo?”
“Hidih kepo aja bahagia.”
“Dari pada Mbak gak pernah bahagia?” Kirana langsung melototin Kamilia.
“Hiihh.. kamu ya, mulai berani melawan Mbak. Rasakan ini!” Kirana menggelitik adiknya, Kamilia.
“Aaah, geli-geli..!! ampun Mbak! Ampuun..!” teriak Kamilia.
“Awas ya, kalau berani melawan Mbak lagi.”
“Iya, deh. Janji gak akan.” Kamilia pun langsung kabur ketika Kirana melepasnya.

Ketika sudah shalat isya, Kirana mendengar HP nya berdering. Ternyata ada SMS. Dan kagetnya lagi ternyata dari Andre. Ketika melihat SMS nya, ternyata isinya itu Lagi ngapain? Kirana menelan ludah susah payah. Wajar dia belum pernah menerima SMS seperti itu dari lawan jenisnya. Dia bingung mau dibales atau enggak? Akhirnya Kirana memutuskan untuk tidak dibalas. Karena menurutnya itu tidak begitu penting.

Besoknya di kelas, Kirana menghampiri Andre. “Hey, Ndre. Maaf ya, kemarin gak dibales.” Andre kaget melihat kehadiran Kirana. Dia pun cekikikan. Kirana manyun sambil cemberut. Andre melihat Kirana langsung berhenti tertawa.
“Aduh, maaf. Bukan maksud aku ngetawain kamu.”
“Minta maaf malah diketawain, dasar.”
“Habis kamu lucu banget. Iya, baru gitu aja langsung minta maaf. Minta maafnya sungguh-sungguh lagi. Padahal SMS nya kan gak begitu penting.”
“Gak, boleh?”
“Boleh kok. Ya, baru kali ini aja ada orang yang kayak kamu.” Kirana langsung pergi.
“Tunggu Kirana, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Teriak Andre. Kirana pura-pura tidak mendengar. Andre berlari menuju Kirana.
“Kirana aku mau ngomong sama kamu, sebentar aja. Tapi gak di sini.” Kata Andre sambil memegang tangan Kirana supaya gak lari.
“Ya, udah di taman depan kantin aja ngomongnya!” Ketus Kirana.

Mereka pun pergi ke taman. Kirana duduk di kursi taman, sedangkan Andre berdiri di bawah pohon. “Emangnya kamu mau ngomong apa?” Tanya Kirana dengan suara tinggi.
“Keep calm aja Kirana manis.” Kirana semakin ilfil karena dipanggil manis.
“Ih jangan panggil aku kayak gitu. Aku bukan pacar kamu. Geli tau gak!?” bentak Kirana langsung memalingkan wajahnya.
“Oke-oke, maaf, aku gak tau kamu gak suka.” Jawab Andre berusaha agar Kirana tidak marah.
“Udah cepetan kamu mau bilang apa?” Kirana mulai gak sabaran.
“Jadi, begini, dari semenjak kamu menjadi murid baru di kelas 11 IPA 4, aku melihat ada sesuatu yang beda dari kamu dengan yang lain. Dan aku suka itu. Kamu itu polos, pendiam, pintar, sholehah, dan cantik lagi.”
“Udah cuma mau ngomong itu doang?” Tanya Kirana dingin.
“Tuh, kan kamu itu polos banget. Aku ngomong gitu aja, jawabannya gitu. Begini, kalau aku nembak kamu pasti kamu tolak. Soalnya kamu gak mau pacaran kan?”
“Iya.” Jawab Kirana singkat.
“Aku mau nanya, kamu suka gak sama aku?” Kirana langsung terkejut. Sebenarnya dia suka sama Andre semenjak Andre nolongin dia. Cuman dia takut mengatakannya. Lalu dia teringat apa yang dikatakan ibunya waktu kemarin. Yaitu, ibunya melarang dia bohong. Ya, sudah dengan beratnya dia menjawab.
“Kalau suka emang kenapa?” Andre terkejut. Dia melihat Kirana dengan tidak percaya.
“Beneran kamu suka sama aku?” Tanya Andre lagi.
“Ya, tapi aku tetap gak mau pacaran.”
“Ya, aku tau kok. Jadi, kamu maunya apa?” Tanya Andre sedikit gembira.
“Menurut aku, kita jadi sahabatan aja deh. Gampang kan?”
“Oke, aku setuju. Jadi jangan jutek terus ya, kalau kita ketemu?”
“Iyaah.” Kata Kirana lembut.

Mereka saling tersenyum dan kembali ke kelas. Dan sekarang mereka menjadi sahabat. Tapi, bukan mereka saja yang jadi sahabat, Melly dan sahabatnya Andre yaitu Ray juga menjadi sahabatan, yang katanya mereka juga saling menyukai. Sekarang pun Andre sudah berubah, dan dia sudah tidak dapat julukan PLAY BOY lagi, tapi mendapat julukan KIAI wkwkwk. Karena dia ketularan sholehnya dari Kirana. Mereka berempat pun menjadi sahabat yang terkenal kekompakkannya di SMA Cahaya Bangsa.

Cerpen Karangan: Aftina Yusliha
Facebook: Aftina Yusliha

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Dunia Lolipop” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Ginny namanya. Dia adalah penghuni Dunia Lolipop yang sangat cantik. Tapi sayangnya dia tidak bersifat cantik juga. Ia sombong karena kekayaannya yang melimpah.

Kalian pasti belum mengetahui siapa namaku kan? Namaku Nadia orang yang sangat miskin menurut Ginny. Ginny mempunyai geng ‘Girls Lolipop so Beautiful’ namanya. Yang terdiri atas Ginny sebagai ketua, Ani sebagai wakil. Ani dijadikan wakil karena Ani sangat cantik dan juga kaya. Gummy sebagai wakil kedua. Wajah Gummy itu manis makanya dia dijakan wakil kedua. Dan yang terakhir Siona. Siona adalah Miss Smart oleh karena itu dia ikut jadi ketua yang kedua. Siona pun adalah anak yang kaya. Tapi, tak sebanding dengan Ginny.

Kami berada di Dunia Lolipop. Dunia Lolipop adalah dunia orang orang yang kaya. Aku adalah pindahan dari Dunia Permen Karet. Dunia Permen Karet adalah Dunia orang yang hidupnya serba pas pasan.

Pada suatu hari, aku mendapatkan piala emas. Ginny CS langsung merebut piala emas itu dariku.
“Heh anak kampung berikan piala emas itu padaku! Seharusnya itu milik kami tahu! Kembalikan!” teriak Ginny.
“Yaa berikan piala emas itu!” bentak Siona seraya menendang kakiku.
“Ini kan milikku. Aku kan sudah susah payah belajar untuk mendapatkan piala ini.” kataku membela diri.
“Ahh kamu itu menyogok Miss Zimyp kan? Miss Zimyp kan orangnya mata duitan. Pasti mau disogok walau uangnya Cuma recehan yang nggak level sama kita. Kan teman teman?.” ejek Gummy.
“Itu benar. Mana mungkin Girls Lolipop so Beautiful kalah sama anak kampungan kayak kamu.” sela Ani yang dari tadi hanya diam.
“Kalian tega banget sih sama aku. Aku kan nggak menyogok. Miss Zimyp juga bukan orang yang mata duitan kok! Kenapa ya? Semua di antara kalian semuanya sempurna dari penampilan, kekayaan, dan otak. Tapi sifat kalian buruk banget! Ginny kamu smart, kaya, paling cantik, kulitmu putih bersih. Tapi hatimu kayak duri buah durian tahu nggak!” kataku.
“Kamu juga Siona kamu cantik, kaya, paling smart, kulitmu juga putih bersih tapi hatimu setajam kulit salak tahu!”
“Kamu Ani kamu kulitmu paling bersih dan sangat putih, kaya, cantik, dan kamu smart. Tapi hatimu tajam kayak garpu tahu nggak!”
“Kamu juga Gummy padahal dulu kamu anak yang baik, kamu paling kaya, wajah kamu manis, kulitmu putih bersih, dan kamu smart. Tapi hatimu setajam bambu runcing sekarang! Aku kecewa sama kamu!”
“Heh mau hati kami setajam pisau pun kami nggak perduli kok! Asalkan kami tetap jadi orang yang terkenal.” seru Ginny.
“Iya dasar! Masih mending kami daripada kamu udah jelek, hitam, rambut botak, pake kacamata, gigi tonggos, baju robek robek, miskin, bego lagi!” kata Gummy.
“Heh apa maksud kalian menghina sahabatku Nadia! Dia cantik, kulitnya putih bersih kok! Rambutnya juga lebih terawat daripada kalian. Dia memang pakai kacamata! Tapi itu karena dia sibuk belajar! Giginya rata lagi! Dan jangan pernah bilang bajunya sobek! Kalau nggak aku sobekin baju kalian! Apa menurut kalian dia miskin? Kalian hanya tidak mengetahui dia adalah anak presiden yang ada di Dunia Lolipop! Dia ini lagi nyamar! Pak Presiden ayahnya meminta dia untuk memata matai seluruh orang yang menjadi rakyatnya! Dan kalau kalian bilang dia bego lagi awas kalian!” seru Xiya membela aku.
“Xiya kenapa kamu memberitahukan rahasiaku?” tanyaku kepadanya.
“Ma… ma… maaf ya Nad. Aku udah nggak tahan nih.”
“Ya udah nggak papa.”
Akhirnya Ginny CS hanya ternganga mendengar semua itu.

Hari demi hari telah berlalu. Ginny CS kini mengadakan pesta ultah Ani di gedung yang sangat besar. Kami diperbolehkan menginap di situ. Dan akan dibayar oleh Ani. Nama gedung itu adalah Swiss-Bellhotel.

Kelihatannya Ginny CS memakai mascara. Saat malam harinya, Ginny CS tak bisa menahan kantuk lagi. Mereka lalu terlelap.

Pagi hari pun tiba saatnya untuk pergi ke sekolah. Tapi, ada yang berbeda aku tak melihat Ginny CS masuk sekolah. Akhirnya Miss Zimyp memutuskan untuk pergi ke rumah Ginny CS. Kami berpencar menjadi 4 kelompok. Kelompok satu pergi ke rumah Gummy. Kelompok 2 pergi ke rumah Siona. Kelompok 3 pergi ke rumah Ginny. Dan kelompok 4 pergi ke rumah Ani.

Lalu aku kelompok 2 pergi ke rumah Siona. Saat melihat Siona di depan rumah sendirian kami langsung terlonjak kaget. Siona? Kenapa matanya terlihat seperti orang buta ya? Ternyata benar dia benar benar buta karena mascara yang dipakainya kemarin adalah mascara yang sudah kadaluarsa. Begitu juga kelompok 1, 3, dan 4 menyatakan bahwa mereka buta.

Akhirnya sekarang Ginny CS berubah menjadi anak yang baik, sopan, santun dan tidak sombong. Semua orang senang berteman dengan mereka. Dan mulai saat itu juga Ginny CS menjadi sahabatku.

Ayahku sang Pak Presiden kagum denganku. Yang telah bersabar walau selalu dikerjai oleh Ginny CS. Sekarang di Dunia Lolipop terasa seperti surga bagiku. Indahnya.

Cerpen Karangan: Ivana Angelita
Facebook: Ivana Angelita

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Senandung Untuk Ibuku” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Masih ingatkah kau dongeng tentang Malin Kundang, sang anak durhaka itu? Tentu kau masih ingat bukan, tak mungkin kau tak tahu karena cerita, itu rutin dijadikan dongeng pengantar tidur oleh ibumu. Hey, tapi kau jangan berpikir itu aku. Aku hanya bertanya saja, karena saat kau mengingat malin si durhaka itu memaki ibunya yang renta maka akan kau bisa gambarkan siapa ibu ku. Ya kau benar, ibuku adalah seorang wanita tua yang rambutnya belum memutih semua tapi dia tak serenta ibu Malin sombong itu, ibu ku sedikit bungkuk karena ibuku hampir tak pernah berhenti membawa kehidupan si padi muda ke tanah sawah yang bancah untuk kehidupan kami, kulit ibuku juga hitam legam karena sinar matahari terlalu banyak memberikan pancarannya, mata ibuku nanar karena ada beberapa lemak nakal bersarang disana hasil dari selama ini ibuku tak pernah melemparkan pandangannya pada mall nan megah, yang dilihat ibu hanya warna hijau padi muda dan kuning padi tua, lalu lihatlah kuku ibuku ada hitam yang tersembul di ujungnya, tapi itu bukan hitam yang menempel sesaat dan akan menghilang beberapa saat setelah kau gosok dengan jeruk nipis, tapi itu hitam yang bertahan karena getah getah pisang dan lumpur sawah yang melekat.

Kemudian kau rasakan telapak tangan ibuku, apa yang kau rasa? Kasar? Benar, telapak tangan ibuku kasar karena pupuk dengan zat kimianya itu selalu jadi teman ibuku setelah padi muda itu di tanam dan sebelum padi kuning itu memamerkan bulir bulir rupiahnya pada ibuku. Nafas ibuku juga sengau karena seruling bambu akan menjadi tiupan nan berdendang pada arang dan tungku nasi saat perut suami dan anaknya tengah beradu pada cacing cacing yang meronta. Lalu kau lihat juga telapak kaki ibuku? Pecah pecah? Tentu, telapak kaki ibuku seperti itu bukan karena jamur jahat yang besemayam disana ataupun juga keseringan memakai sepatu kulit yang tertutup. Kulit adalah barang mahal bagi ibuku, sangat mahal jadi tak mungkin ibuku punya, sandal jepit baru saja itu pun baru dibeli kemarin oleh ibuku sisa dari upah bertanam ketela Pak Haji, mandor ibu. Tapi telapak kaki ibuku pecah pecah karena berkubang dengan lumpur sawah yang selalu basah. Oh aku lupa kawan, kau belum aku suruh melihat kening ibu bukan? Lihatlah sekarang, apa warna dan bentuk yang kau dapat kawan? Titik hitamkah? Ya benar, aku pun juga temukan. Itu adalah torehan warna dari sujud yang tak pernah letih dilakukan ibuku sebagai makmum ayahku pada sajadah nan digelar ibu tengah sawah kering atau di tepi pematang sebagai sembah syukur kepada Sang Pencipta dan Sang Pemberi Rezeki.

Sekarang kau sudah tahu kawan, itu lah ibuku. Wanita perkasa nan luar biasa. Apa sekarang kau sedang menerka nerka bagaimana wajah ibuku kawan? Tentu kau bisa menerka bukan, tapi jika kau ingin lukiskan wajah ibuku. Ku mohon. Buatlah sosok wanita dengan sayap dewa, dengan senyum sumringah, kuku bersih, badan tegap dan kulitnya halus mulus. Kenapa kau mengernyitkan keningmu? Karena kau ku suruh menggambar sosok yang jauh berbedakah dari ceritaku? Ya, ku jawab sekali lagi, iya. Ibuku adalah sosok manusia setengah dewa, yang tak ada cela. Sempurna, gambaran ibu bagiku. Dengan tangan yang kasar, kulit hitam legam serta kuku yang menghitam ia membelaiku, memelukku serta menanakkan nasi untuk bekal sekolahku dulu. Dengan telapak kasarnya juga ia menapakan kaki menghibur anak dan menghormati suami. Lalu dengan tubuhnya yang tak lagi tegap ia merendahkan diri sebagai makhluk Sang Illahi dan sebagai pedamping bagi ayahku. Senyum ibu akan ku bawa dan akan kusimpan sebagai suatu materi terindah untuk obat penenang hati di rantau orang hingga toga terpasang di kepalaku dan aku pulang membawa nilai terbaik untuk Sang Terbaik dari Ibu Yang Paling Terbaik.

Dan untuk engkau ibuku yang sedang mencari rezeki terbaik di tanah kelahiranku di sudut desa petani di sana, dengarlah hembusan angin senja ini. Rasakanlah bu, bersama jingga yang kau lihat dari jendela rumah tua kita akan ku lukis senyum bangga dan cinta untuk dirimu yang telah buatku menjadi berharga. Lalu lihatlah bu, sinar temaram dari mega yang keemasan. Itu aku, itu aku bu, ya itu aku bu. Aku yang tengah bertahan dalam ejekan dan sindiran serta tuntutan pengetahuan di rantau orang bu untuk membawakan kau senyum terhangat dengan ijazah kelulusan yang ibarat kau itu adalah bongkahan emas keberhasilan kau bu. Aku akan bertahan dengan keindahan dari bayang dan sosok hangat dari mu ibu. Dengarlah desahan hujan kali ini bu, dia akan melagukan nyanyiannya untukmu, ku harap sinar nanar matamu terganti dengan suka selayaknya diriku menyukainya bu.

Cerpen Karangan: Ade Zetri Rahman
Facebook: Ade Zetri Rahman

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Sahabat Lebih Baik Daripada Cinta” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Hai, namaku Natali Anarsya. Orang-orang sering memanggilku Chaca. Aku duduk di bangku SMP kelas 8. Tepatnya kelas 8A di SMP Nusa Harapan.
Aku memiliki banyak teman disana, tapi teman yang paling akrab denganku ada 2, Felia dan Linda.
Di kelas 8A, aku menyukai seorang cowok yang bernama Alif, dia adalah anak yang baik, sopan, pintar dan sholeh.

Suatu siang Alif menghampiriku,
“Hai!” sapanya
“Hai juga” jawabku
“Em, maukah kamu menemaniku ke toko buku, besok?” tanyanya
“Aku?”
“Iya kamu”
“Kenapa harus aku? kan banyak yang lain”
“Begini, kamu ini kan suka membaca, jadi aku kira kamu bisa membantuku mencari buku-buku yang bagus” jelasnya
“Oh begitu, baiklah. Kapan?”
“Besok, sepulang sekolah . Aku tunggu di depan pintu gerbang sekolah,”
“Oke!” jawabku

Senang sekali rasanya hati ini, saat dia memintaku untuk menemaninya ke toko buku.

Senin Pagi
“Huft, melelahkan sekali upacara kali ini” keluh ku
“Oh ya?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku, saat ku tengok ke belakang, ternyata itu suara Alif. Jantungku berdegup kencang.
“Eh iya” jawabku
“Oh ya, makasih ya kemarin” katanya
“Iya, sama-sama. Bagaimana bukunya bagus nggak?”
“Iya bagus, ceritanya seru banget. Kapan-kapan kita beli buku bareng lagi yah!” ajaknya
“Dengan senang hati” jawabku

‘Sungguh hari yang menyenangkan’ pikirku
“Door!”
“Waa, dasar kamu ya Lin. Cuma bisa buat aku kena serangan jantung tau nggak!” bentakku
“Ya maaf deh, lagian sii senyum-senyum sendiri” jawab Linda

Kelas 8A
“Cha, pinjem penggaris dong” pinta Alif yang tiba-tiba muncul di hadapanku
“Eh, Ini” jawabku sambil menyodorkan sebuah penggaris
“Makasih” jawabnya
“Ehemm ciyeee” kata Linda
“Apaan sii Lin” bentakku
Alif hanya tersenyum
“Eh ada apa? Chaca jadian sama Alif ya?” sambar Lisa si biang gosip
“Engga kok, jangan percaya Linda deh” kataku
“hehehe” senyum Linda

Tiba-tiba Felia muncul dan mengomentari potongan rambut baru Alif,
“Wiih, potongan rambutmu keren banget Lif” komentar Felia
“Hehe, iya dong” sahut Alif
Mereka terus melanjutkan obrolannya sambil sesekali tertawa.
Aku yang panas melihat semua ini segera keluar kelas. Linda yang melihatku segera mengejarku
“Sabar lah Cha,” hibur Linda
“Aku nggak nyangka orang yang selama ini aku anggap sahabat tega melakukan ini” kataku
“Udahlah Cha. Tuh bel udah bunyi mending kita cepet-cepet masuk kelas” ajak Linda

Berkali-kali Felia melakukan hal yang sama. Hingga suatu hari ku beranikan diri untuk menegur Felia,
“Fel, kamu kok tega banget si sama aku” kataku
“Jahat gimana maksud kamu Cha?”
“Kamu kan tau, aku tu suka sama Alif. Tapi kenapa kamu sekarang malah sengaja ngedeketin Alif?” jelasku
“Oh jadi kamu cemburu?”
“Hem” jawabku singkat
“Ya udahlah, gak usah cemburu lagi gak penting juga kan” kata Felia
Benar-benar sakit hatiku mendengar kat-kata Felia. Aku segera pergi meninggalkannya.

2 hari sudah aku mendiamkan Felia, bahkan menyapanya pun tidak. Perlahan-lahan aku bisa menghilangkan rasa cintaku pada Alif, namun belum rasa kesalku pada Felia.

Hingga sepulang sekolah,
“Chaca!” panggil Felia
Aku hanya diam dan menengok ke belakang
“Aku minta maaf” kata Felia
Aku masih diam
“Oke, aku akui aku memang salah. Aku minta maaf” jelasnya
“Baiklah, aku maafkan. Lagipula aku sudah tidak menyukai Alif lagi. Karena sahabat lebih baik daripada cinta” jawabku
“Terimakasih Chaca yang cantik” puji Felia

END

Cerpen Karangan: Esya Aqilla Alfianti
Facebook: Esya Nakx Irmahiksa

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Miss Facebook” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Kringgg…!!! Alarm Wanda berbunyi, bukannya bangun, Wanda malah mematikan alarmnya. Dan kembali terlelap.
Namun ia kembali terbangun ketika ingat janji Kak Rina. Yaitu akan membuatkannya Facebook.

Ia meloncat dari ranjangnya, segera mandi, sarapan, lalu pergi ke rumah Kak Rina.

TOK.. TOK.. Wanda mengetuk pintu. Tak lama kemudian, datanglah seorang perempuan berkacamata, dan itu
adalah Kak Rina.
“Eh, Wanda, ya? Sini masuk!” Kata Kak Rina mempersilahkan Wanda masuk.
“Iya, kak! Aku mau nagih janji kakak kemarin.” Kata Wanda to the point.
“Oh itu! Kakak masih inget, kok! Kebetulan kakak online.” Jawab Kak Rina seraya mengambil laptop miliknya. Lalu
membuatkan Wanda Facebook, lalu mengajari Wanda ‘berselancar’ di dunia maya dengan benar, tentunya.

3 jam pun berlalu. Wanda merasa sangat senang. Kini dia tahu apa itu update status, like, coment, karena
sebelumnya Wanda tidak tahu, sampai dijuluki ‘miss jadul.’ “Kak! Boleh enggak, kalau anda sering-sering datang
kesini?” Tanya Wanda.
“Boleh-boleh aja, tapi kamu mau apa?” Kak Rina balik bertanya.
“Buat Facebookan lah!” Jawab Wanda semangat.
“Iya, enggak papa. Eh, ini udah jam 11 lho! Kamu enggak pulang?” Tanya Kak Rina.
“Oh, Iya! Aku pulang dulu, ya kak!” Jawab Wanda sambil menepuk jidatnya dan segera pergi meninggalkan Kak Rina yang
sedang menggelengkan kepala, tanda heran.

Sekarang, Wanda sangat berubah, tadinya Ia adalah seorang anak yang senang menghabiskan waktu di rumah, sekarang Wanda lebih senang pergi ke rumah Kak Rina untuk Facebookan. Bahkan malam pun Ia masih pergi untuk Facebookan. Sampai-sampai dia tidak sempat belajar.

“Wanda, kenapa malam-malam begini kamu masih Facebookan? bukannya kamu harus belajar?” Tanya Kak Rina pada suatu hari.
“Enggak apa-apa, kak! Kan jarak rumah ke sini cuma dibatasi tembok.” Jawab Wanda seenaknya.

Lama kelamaan, nilai Wanda turun drastis. Yang dulu rata-ratanya 90 sekarang hanya 60. Jika ditanya apa penyebabnya, Wanda tidak mau jujur. Maklum, kedua orangtua Wanda seorang pekerja yang sibuk. Berangkat pagi pulang malam, sehingga tidak dapat mengawasi Wanda secara total. Tapi lama-kelamaan semuanya tahu bahwa Wanda sekarang lebih suka Facebookan daripada belajar. Wanda pun dihukum tidak boleh Facebookan lagi.

Cerpen Karangan: Hanifa Alyaratri S.
Facebook: Hanifa Alya

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”First Love Andina Rasty” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Berawal dari Sahabat menuju sebuah pernikahan…
Aku rasty aku adalah perempuan normal yang juga bisa merasakan jatuh cinta, tapi aku jatuh cinta ke hati yang salah, hati seorang sahabat yang sudah 8 tahun bersama, aku hanya bisa memendam perasaan ini tidak pernah terfikir untuk diungkapkan, mungkin karena aku wanita, kadang cinta yang kita pendam bisa menyiksa perasaan dan kejiwaan, ketika kita melihat orang yang kita cintai tertawa bukan karena kita melainkan orang lain cinta itu bisa menusuk nusuk perasaan bahkan dia bisa melukai hati dan menggoresnya secara perlahan sehingga meninggalkan luka, bahkan aku adalah seorang wanita yang menyembunyikan perasaan tanpa mengetahui apakah perasaaan itu telah ditunggu olehnya.

Pagi ini aku sulit sekali untuk bangun, badanku terasa sangat berat untuk berdiri, tapi dia memaksaku untuk bangkit dia adalah Rian sahabat baik yang aku ceritakan itu, dia mengambil 1 gayung air dingin dan menyirami wajahku dengan air dingin itu, aku kaget dan terbangun, aku sejenak menatap rian, sepertinya dia sudah siap untuk berangkat kuliah, “apa kuliah baru sadar kalau hari ini senin”, aku sibuk mencari handuk, dan kaca mata. rian hanya senyum melirikku, dia cuman bilang “kamu itu kalau niat belajar bangun dong pagi pagi”, aku hanya menjawab “iya deh lu paling cakep deh”, dia hanya membalas tawa, terkadang rian bisa sangat menyebalkan dan terkadang dia juga bisa sangat perhatian.

Selesai berpakaian kulihat rian memandangi akurium milik ayah, dia bilang “ikanyanya bagus lucu, aku suka banget mas koki, ternyata ayah kamu suka ikan hias”, aku cuman bisa tersenyum memandangi rian “ya udah yuk berangkat nanti telat”,

Di dalam mobil aku melihat sebuah akurium kecil milik rian, aku bingung kenapa ada akurium di dalam mobil apa ikannya gak mabok, aku memandangin akurium itu dan menarik perhatian rian, “oh itu iyah aku sangat suka ikan hias jadi aku buat akurium di dalam mobil”, “tapi kan ini di dalam mobil apa gak mabok yan ikannya”, “yang enggak lah jelek, kan jalanya gak ada yang rusak di dalam komplek maupun di jakarta”, “ih tapi kan kasihan ini ikannya, mancung…”, “ok deh nanti aku pindahin, ada benernya juga kata kata mu, baru kali ini si jelek pinter”, “yeee udah dari lahir yah aku pinter mancung”. Setelah sampai di kampus aku dan rian bergegas memasuki lokal, lokal kami hanya berbeda 2 jarak.

Siang ini rian sms aku katanya dia udah nunggu di kantin, aku segera berlari ke kantin mungkin rian sudah menunggu lama, ketika aku berada di kantin aku melihat rian tersenyum dan tertawa dengan wanita lain postur tubuh wanita itu pendek dan rambutnya yang hitam dan lurus, perasaaanku yang tadinya stabil jadi terbakar, perasaan itu menusuk nusuk lagi dan meninggalkan luka yang amat teramat sakit, aku berjalan perlahan mendekati rian. “hey rasty, duduk duduk kenalin nih amel temen sekelasku waktu smp, kamu ingat gak si amel?”, aku kaget ternyata itu amel, aku terlalu cepat cemburu tanpa tahu siapa wanita itu, “oh iya iya amell tau tau, gimana kabar kamu mel?”, “aku baik baik aja kok rasty, oh iya kalian masih akrab seperti dulu yah aku salut dengan persahabatan kalian”, dia memuji persahabatan aku dengan rian dia tidak tahu gimana aku menyimpan perasaaan kepada cowok aneh ini, rian pun tersenyum membalas perkataan amel, “iya dong kan kami saling melengkapi udah gitu jarak rumah rasti kan dekat dari rumah ku mel yah sering jumpa” amel tersenyum memandangin rian, aku melihat mata amel begitu menyimpan rasa kepada rian, apa mungkin?. ntahlah aku juga tidak tahu, siapa yang bisa tahu perasaan seseorang, aku hanya bisa duduk dan diam, “oh ya nanti malam ada waktu gak mel, kamu juga rasty”, pasti rian ingin mengajak aku dan amel bakar BBQ di rumahnya, sudah aku tebak, “ada kok rian” ucap amel dengan senyuman manisnya itu, “bagus dehh, kamu rasty”, “kapan sih aku gak ada waktu buat kamu yan”, “esehhh manteppp”. Setelah selesai makan bakso dan bercerita panjang lebar kami pun bergegas ke rumah rian untuk mempersiapkan segalanya.

Di rumah rian aku dan amel menyiapkan kayu bakar dan rian menyiapkan daging untuk di panggang, sibuk sibunya kami datang abangnya rian yaitu bang reza, dia begitu tampan sama seperti adiknya, dia datang untuk meminjam mobil, “yan abang pinjam mobil, mobil abang lagi rusak, katanya tuh montir datang siang ini eh ditungguin malah gak datang”, “ya udah nih bang pakai, mau malam mingguan nih”, “halah biasa aja mau ngumpul bareng nonton manchester united lawan arsenal”, “waw seru tuh bang”, “iya selamat menikmati daging panggang yah yan”

Setelah abang reza pergi untuk menonton bola kulihat amel mendekati rian untuk membantu rian membakar daging, dalam hati aku hanya bisa bilang “tuhan kenapa harus di depanku mereka seperti itu”, aku berdiri dan berlari ke luar, aku gak tahan dengan pemandangan itu, rian cuman bilang mau kemana, aku pikir dia peduli sama aku ternyata dia lebih nyaman dengan teman lamanya itu.

Aku duduk di depan rumah rian sambil menatapi langit membayangkan impian yang selama ini aku simpan, membayangkan cinta itu datang menemuiku, tapi dia belum sadar sampai sekarang aku harus lebih berusaha lagi. tidak lama aku duduk, bang reza pulang dia datang dan menanyaiku kenapa aku berada di luar aku hanya menjawab aku sedang tidak ingin berada di dalam kak, dia cuman tersenyum, aku kaget bang reza mengatakan “Kakak temanin yah, kamu kayanya sedang sedih, coba cerita sama kakak mungkin kakak bisa bantu”, aku gak nyangka bang reza mau menemaniku dan ingin aku curhat kepadanya. “aku malu kak pada diriku sendiri”, “loh emang kenapa, apa yang membuat kamu menjadi malu pada diri kamu sendiri?”, “salah gak kak kalau aku menyukai rian”, bang reza kaget, wajah terang berubah jadi gelap mungkin ni efek dari perkataaan itu tadi, “dik dengar kakak yah, kakak juga sedikit kaget mendengar kamu mengatakan itu, kamu Suka sama rian dan status kalian adalah sahabat baik, Cinta itu soal perasaan dik, kalau kamu memang suka sama rian ungkapkan secepatnya jangan malu, bukan karena kamu seorang wanita kamu harus menyimpan perasaaan tapi karena kamu adalah wanita kamu menjadi lebih berani mengungkapkan, kejar dia mungkin dia belum tahu yang sebenarnya”, “kak aku belum berani mengungkapkan perasaan ini kak, aku takut merusak persahabatan ku dengan rian”, “jangan seperti itu dik, kakak tau bagaimana rian, ya”sudah kamu ke dalam bicara empat mata dengan rian, pergilah”. aku bangkit dan masuk ke dalam, ketika aku masuk aku melihat rian dan amel berpelukan, gelas dalam genggaman pun terjatuh ke lantai, aku meneteskan air mata tapi kutahan untuk menangis dan teriak, aku berlari ke arah luar dan menabrak kak reza, kak reza heran melihat ku berlari sambil menangis, sepertinya rian tahu aku berlari, dia mengejarku tapi aku tidak menghiraukan itu semua perasaaan kesal, sedih, emosi, takut dan benci menyelimuti perasaaan ku hari ini, aku tidak ingin bertemu rian besok dan selamanya, aku benci dengannya mungkin malam itu adalah terakhir ku melihat rian, terkadang aku rindu kepada rian sesekali aku membuka jendela dan memandangi rumah rian, tapi kelihatannya rian selalu pergi dari pandangan ku, apakah dia merindukanku, badan ku terasa lemas kepalaku menjadi pusing, aku mau istirahat dan gak ingin memikirkan kejadian semalam.

Pagi ini aku mendengar sebuah teriakan dengan nama “rasty rasty keluarlah”, aku mendadak bangun dari kasurku dan membuka jendela, silaun mentari membuat mataku menjadi lebih terbuka, ternyata itu rian, aku menutup jendela dan turun menemuinya. Sesampai di bawah aku membuka gerbang dengan masih memakai baju tidur, aku bertanya pada dia “Mau ngapain?” dia berusaha menjelaskan kejadian tadi malam, “aku mau ngejelasin semuanya sama kamu, aku udah tau perasaan kamu ke aku ras, bang reza sudah cerita semuanya, aku gak tau kalau kamu menyimpan perasaaan sama aku, ras tolong kasih aku kesempatan, kamu boleh benci sama aku ras tapi tolong jangan hilangin perasaan itu juga, aku sayang sama kamu ras, aku ingin kita sama sama lagi, soal tadi malam kamu melihat amel meluk aku, kamu udah salah paham ras, bokapnya akan pindah ke australia aku memeluknya hanya pelukan perpisahan enggak ada lebih ras, kamu mau kan ras maafin aku”, dia menjelaskan semuanya sambil meneteskan airmata, genggaman tangannya begitu kuat, aku menjadi menangis mendegarnya, “cukup yan cukup, hapus air mata itu, itu bukan rian yang rasty kenal”, aku memeluk rian sambil menangis, rian mengatakan, aku mencintaimu ras dia mencium keningku dan aku mulai benar benar menangis dan memeluknya sangat erat, aku juga menyayangimu yan, aku mau kita bahagia bersama dan selamanya.

Dan mulai hari itu aku dan rian berubah, kami menjadi lebih akrab lebih dari sahabat baik tapi AKU DAN DIA Berubah menjadi KITA sebuah Persahabatan Berubah jadi cinta, setiap kali aku berharap kepada tuhan nama rian selalu ada dalam selingan doa dan harapan itu.

5 tahun berlalu aku dan rian menjalin sebuah akad pernikahan Aku Dan dia yang berubah menjadi Kita sekarang berubah lagi Menjadi Kami, menjadi sebuah keluarga yang begitu bahagia.

TAMAT

Cerpen Karangan: Luay Zahirul Ginting
Blog: http://luayzahirulwriter.wordpress.com/
@luayzahirul23
PIN:75D68777

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Pesan Singkat Untuk Kamu” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Malam ini aku mulai merasa menyadari sesuatu. Tentang kamu. Gak tau deh pemikiran-pemikiranku ini mulai keluar dengan sendirinya setelah melihat kamu akhir-akhir ini. Ini hanya perasaanku atau memang iya. Kamu mulai berbeda. Mulai berbeda. Kamu bingung? So pasti! Karena kamu gak akan pernah merasakan perubahan pada diri kamu. Orang di sekitarmu yang akan merasakannya. Dan terlalu merasakannya. Aku hanya mengeluarkan pendapat. Gak lebih.

Tapi beneran aku risih dengan suasana sekarang. Kamu seperti hidup dengan topeng yang melekat di dalam diri kamu. Terlalu susah untuk ditebak. Sekarang. Kamu mau tahu perbedaan kamu, sekarang? Okey. Aku akan jelasin. Mungkin gak semuanya. Dan mungkin ini cuma beberapa yang aku rasakan.

Satu. Kamu gak akan pernah merasakannya. Tapi aku tahu. Kamu mulai menjauh. Susah untuk digapai kembali. Dan terlalu sering menutup-nutupi sesuatu dari kami. Aku ingat ketika kamu sedang duduk dan memegang handhphonemu. Dan aku mendekat untuk ingin sekedar tahu tapi kamu langsung menyembunyikan handphonemu dan beranjak meninggalkan aku. Disana.

Dua. Sikap kamu mulai nggak peka dengan sekelilingmu. Mungkin lebih tepatnya, gak peduli. Kamu ingat, waktu Ayah sakit? Kamu pasti lupa. Aku melihat kamu hanya berdiri kaku di depan pintu dan hanya melihat aku dan yang lain mondar-mandir mengambil sesuatu yang diperlukan untuk Ayah. Kamu malah gak bergerak sedikitpun dan kamu pergi begitu saja.

Tiga. Kamu terlalu fokus sama satu orang. Orang yang baru kamu kenal. Ini terlalu. Ya terlalu hingga aku ingin tertawa mengingatnya. Mengingat ini. Saat kamu dengan gelisahnya mondar-mandir gak jelas karena dapet kabar orang yang sudah menjadi pacar kamu itu sakit. Kamu sebegitu panik dan khawatirnya kepada dia. Dan semua itu membuat aku mengerti.

Empat. Kamu mulai sering marah-marah nggak jelas, mengeluh. Ini aku sering merasakannya. Menjadi korban kemarahanmu yang nggak jelas itu. Sering. Inget pada hari kamis lalu? Kamu marah-marah gak jelas sama kami. Padahal kami nggak tahu apa-apa.

Dan yang ke-lima sekaligus terakhir. Ini point pentingnya. Kamu mulai melupakan Kami. Selalu memberi jarak dengan kami. Memberi jarak dengan aku. Selalu menutup-nutupi. Menjadikan kami kasat mata seperti makhluk halus yang terlihat. Tapi kamu harus tahu. Seharusnya kamu jangan terlalu fokus sama dia. Sama orang itu. Kamu harus ingat dari semua orang, mungkin hanya kami yang selalu akan ada di sampingmu. Yang selalu sayang sama kamu. Yang selalu menasehati kamu. Yang selalu memaklumi kekurangan kamu. Yang selalu mengasihimu tanpa pandang bulu. Yang selalu dengan mudah memaafkan kamu. Yang selalu mengerti kamu. Yang selalu tahu tentang kamu. Yang selalu… semuanya. Dan itu kami. Keluarga. Keluarga kamu. Kamu tahu? Kamu dekat dengan dia dan melupakan kami. Padahal kamu baru mengenal dia dan kamu tahu kan kamu sudah mengenal kami dari kapan? Dari dulu. Dari kamu lahir sampai sekarang. Dan sekarang kamu seperti menghilangkan tentang kami, di hidupmu.

Dan aku benci itu. Benci sikap juga sifatmu yang sekarang. Benci kepada orang yang merubahmu menjadi begini. Aku sangat benci. Aku gak tahu. Yang jelas aku benci. Sangat benci.

“Kka…” Seketika pandangan kamu yang sedang melihat layar handphonemu langsung tertuju kepadaku.

“Apa, Vi?” Aku menghembus napas. Menatap mata hitam kamu dalam. “Aku cuma ingin kasih pesan buat kamu. Kamu harus dengerin baik-baik dan cerna. Aku harap kamu jangan pernah melupakan kami. Dan janganlah terlalu terfokus sama satu orang. Karena bukan hanya satu orang yang ada di sekitarmu, masih ada orang lain di sekitarmu yang harus kamu lihat. Aku dan yang lain nggak pernah ngelarang kamu untuk pacaran. Tapi tolong lihat kami kembali, jangan hanya memberi ruang untuk pacar kamu. Kami juga ada untuk kamu. Disini. Di samping kamu yang selalu ada untuk kamu. Beri ruang yang besar untuk kami.” Aku segera beranjak. Ku harap kamu -Cakka- mengerti. Mengerti kami.

“Bukan cuma pacar yang ada di samping kita. Tapi lihat ada yang lebih dominan yang selalu ada di sekeliling kita, dan itu keluarga.” – Sleevia (Aku).

Cerpen Karangan: Tya Yoan Ardila
Facebook: Tya Yoan Ardila

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Yang Seharusnya Nyata” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

“Lang, dia memandangku! terus memandangku, Lang!” Namun, temannya hanya terdiam.
“Lang, kau pasti tau bahwa aku sangat mencintainya kan!” Temannya tetap terdiam.
“Aku sungguh mencintainya, Lang!”

Semenjak dua minggu yang lalu. Gilang yang selalu betah berada di samping sahabatnya itu, hanya bisa membisu. Gilang hanya mengikuti setiap gerak dari sahabatnya itu yang bernama Angga. Namun, Angga tak sedikit pun merasa emosi melihat Gilang yang hanya diam seribu bahasa. Karena Angga hanya diam pada satu titik, yaitu memperhatikan sesosok wanita yang dicintainya sejak setahun yang lalu. Sebegitu cintanya, hingga dia rela mengikuti kemana wanita tersebut pergi, mengawasi setiap aktivitas yang wanita itu jalani, dan menjadi mimpi dalam tidurnya.

Di suatu jalan trotoar yang sempit ketika dia tak sengaja menjatuhkan buku pelajaran yang wanita itu bawa. Angga pun berkenalan, namanya Alisha. Ya, Angga tak mengerti mengapa harus terjadi, ‘cinta pandangan pertama’.

Hari berlalu cepat ketika mereka selalu menelan waktu berdua. Namun Angga terlalu takut untuk mengungkapkan rasa cintanya, hingga setahun berlalu dengan hanya mencintai Alisha dalam hati saja.

Suatu hari tepat setahun Angga memendam rasa, Angga mengajak Gilang sahabatnya untuk menemui Alisha di rumahnya. Dengan menggunakan motor yang dikendarai Angga, mereka melaju…

“Lang, dia berjalan ke arahku!” Gilang hanya melihat namun tetap membisu.
“Lihat Lang, Lihat!!!” Alisha mendekat.
*lalu semua menjadi hening, ketika nyatanya Alisha hanya melewatinya.*
“Lang, kenapa dia hanya melewatiku?, Lang!” Angga mulai menangis, melihat Alisha telah pergi jauh dari hadapannya. Namun Gilang tetap terdiam.
“Gilang, tolong bantu aku!. Mengapa kau hanya terdiam melihat sahabatmu ini terluka!, Gilang!!!” Lalu Gilang mendekatinya, dan berkata dengan sekeras mungkin di hadapan Angga.
“Kita telah mati, dalam kecelakaan dua minggu yang lalu!!!”.

Cerpen Karangan: Brilyan Wahyu Gemilang
Facebook: Ghilang Wahyu

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Sebuah Firasat” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Masih ku ingat selalu saat dia menggenggam tanganku, memelukku erat erat seakan tak mau terlepas dariku. Saat itu kami resmi menjadi sepasang kekasih. Sikapnya yang lembut namun tegas, dan begitu kharismatik menurut teman temanku, kami memang sangatlah cocok.

Kejadian tiga bulan lalu mungkin adalah peristiwa paling berkesan di hatiku. Saat dia menembakku di pinggir danau yang jernih. Takkan kulupakan semua itu. Kami sering bersepeda bersama mengelilingi jalan pedesaan yang belum tercemar oleh polusi dan setiap malam minggu sering kami habiskan bersama. “Kamu janji kan setia sama aku Vin?” “Aku janji Kan!” katanya saat itu dengan mantap.

Namun ada apa dengan sekarang. Aku memutuskan dia, Kevin. Dia mungkin tak tau perasaanku saat itu. Dia menduakanku karena dia seorang gamers. Sulit dipercayai, dia meninggalkanku gara gara game suram itu. Dia lebih mencintai gamenya daripada diriku.

Perlahan lahan dia mulai menjauhiku. Sekarang sudah seperti kami berdua tak saling mengenal satu sama lain. Game itu telah menutup mata dan hatinya. Mungkin ia sudah tak punya rasa untukku.

Hari hari kujalani sendiri, tanpanya. Aku akan membuktikan jika aku mampu tanpa kehadiran sesosok Kevin. Hari pertama masuk sekolah setelah liburan dibagikan daftar kelas. Aku sekelas dengan Kevin. Apa aku ditakdirkan untuk tidak melupakannya. Setiap hari dapat kulihat dengan jelas wajahnya, masih seperti setahun yang lalu, belum banyak perubahan. Ku akui, kami memang masih baru menginjak masa remaja. Dan apa yang timbul di hati kami mungkin lazim disebut cinta monyet. Namun aku menyangkal pernyataan itu, mungkin rasa ini terlalu dalam dan tak bisa hanya disebut cinta monyet.

Telah lama aku berusaha melupakan kenangan kami, dan itu hampir berhasil. Namun mengapa Engkau hadirkan dia kembali di dekatku ya Tuhan? Apa mungkin karena Kevin itu first love-ku jadinya memang sulit sekali melupakannya.

Setiap harinya di kelas dia hanya memandangiku sinis, namun aku sering memergokinya sering curi curi pandang ke arahku. Bukan hanya aku, namun teman temanku juga menyadari tingkahnya itu. Mungkinkah dia masih mencintaiku? Aku sudah tak berharap lagi padanya. Namun dalam relung hatiku yang paling dalam, aku masih merasakan gejolak cinta yang menyala, sulit untuk dipadamkan. Entahlah, aku sendiri masih bingung mengenai perasaanku.

Suatu hari dia tak masuk sekolah, aku mengkhawatirkannya. Ya aku merindukan gelak tawanya yang khas dan senyum manis yang melekat di bibirnya dulu. Dia sedang sakit. Aku berharap itu hanya sakit biasa. Keesokan harinya dia sudah masuk sekolah seperti biasanya. Aku senang melihatnya bisa tertawa dengan temannya. Mungkin setiap harinya aku membuat fake smile, dan mereka mengira aku orang yang murah senyum.

Aku juga merasa lelah dengan senyum kebohonganku ini. Aku tak tahan. Sungguh tidak nyaman bila setiap harinya terlarut oleh kebohongan ini. Karena sangat sedihnya, sampai sampai aku tak bisa mencurahkan rasa hatiku kepada siapapun. Tidak dengan orangtuaku, tidak pula dengan sahabatku, Lintang. Aku begitu bodoh memendam semua ini. Aku masih menyimpan rasa untuk first loveku, Kevin.

Akhir akhir ini Kevin sering tak masuk sekolah. Kenapa dia? Mungkin dia sering membolos, pikirku. Membolos demi game pikirku. Dia bermain game tak kenal waktu, pagi siang sore malam tak pernah absen dari game kesukaannya.

Malam hari itu perasaanku tak enak, aku memikirkan sesuatu yang tidak tidak. Aku takut sesuatu terjadi pada Kevin. Aku sulit sekali untuk tidur. Kupejamkan mataku dan akhirnya tertidur. Aku merasakan tidur ini tak biasa. Aku ingin bangun namun sulit, begitu pula aku mencoba berteriak. Seperti ada yang mencegahku. Kupaksakan mengangkat kepalaku dengan sekuat tenaga, akhirnya aku bisa bangun. Sulit sekali rasanya. Leherku bercucuran keringat. Begitu juga dahiku. Kulihat jam dinding menujukkan pukul 11.30. Sebelumnya, aku memimpikan sebuah kafan, perasaanku makin tak enak. Pertama aku bangun, pikiranku langsung tertuju pada Kevin. Semoga dia baik baik saja, tolong lindungi dia ya Allah.

Tadi pagi pukul 4, Kevin mengirim sms selamat pagi untukku. Tak seperti biasanya. Bahkan dia kembali menyertakan sebutan ‘sayang’ di belakangnya. Aku pun membalasnya sambil senyum senyum sendiri. Pagi ini aku berangkat sekolah tanpa pikiran cemas. Pikiranku yang tadi telah hilang karena Kevin baik baik saja pikirku. Sampai di sekolah, banyak teman teman berkerumun. Aku mendatangi kerumunan itu. “Ada apa sih?” Tanyaku sangat penasaran. “Jadi kamu belum tau sedikitpun? Harusnya kamu masuk daftar orang orang yang pertama tau berita ini!” Bentak Lintang. “Iiyaa! Kevin tadi malam meninggal pukul 11.30.” “Aapaaa?” Jawabku seolah tak percaya dan aku langsung tak sadarkan diri, mungkin kejadian tadi malam itu adalah sebuah firasat, ternyata kafan itu untuk Kevin.

Setelah aku sadarkan diri, aku menangis sejadi jadinya, teman teman menenangkanku. Aku menceritakan mimpiku pada Lintang. Dia terheran heran dengan firasatku yang sangat kuat, dia malah mengatakan kalau mungkin Kevin masih sangat mencintaiku. Kevin meninggal pukul 11.30, jadi siapa yang mengirim sms selamat pagi, pada pukul 4 tadi?
Aku dan Lintang datang ke rumah Kevin, ramai sekali orang melayat. Ibu, ayah, adik dan kakaknya menangis seusai pemakaman Kevin. Adik Kevin rupanya yang mengirim sms pukul 4, itu adalah amanat dari Kevin. Aku menangis lagi, Lintang menyeka air mataku. “Kania kan ini?” Ujar wanita yang tak lain adalah ibu Kevin. “Kevin sering cerita tentang kamu, katanya kamu pintar, baik, ramah, lucu. Kevin menyukai kamu.” Deg.. jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. “Iya saya Kania bu.” “Ini ada surat dari Kevin buat kamu tolong mebacanya nanti di rumah saja ya.”

Setelah aku menerima surat itu, aku langsung berpamitan pada keluarga Kevin dan bergegas pulang ke rumah untuk segera membaca surat itu.

Sesampai di rumah, kubaca perlahan surat itu..

Untuk Kania
Mungkin saat kau buka amplop surat itu aku sudah pergi ninggalin kamu.
Maaf aku enggak pamit kamu dulu.
Aku sudah dijemput oleh Malaikat untuk pergi ke surga, dan dipersilahkan menaiki kendaraan ke surga.
Kamu jangan nangis dong. Aku tau sekarang kamu lagi nangis. Jelek lho kalau nangis, senyum dong biar tambah cantik.
Tenang Kan, aku sudah tenang di sini.
Kalau kamu mau inget aku, kamu pergi saja ke danau itu, tatap saja airnya.
Aku tak pernah hilang. Aku juga akan seperti langit
Yang bisa mengawasi dari atas sini.

Kevin

Air mataku mengalir deras saat membacanya. Aku tak tau Kevin mengidap penyakit apa selama ini, dan aku tak akan mencari tau. Karena itu hanya menambah kepedihanku saja. Kevin, Aku tak akan melupakanmu… sayang.

THE END

Cerpen Karangan: Lena Sutanti
Blog: lena-sutanti.blogspot.com

Nama: Lena Sutanti
FB: https://www.facebook.com/lena.sutanti
Blog: lena-sutanti.blogspot.com
TTL: 10-10-1999

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Sepotong Malam Untuk Cinta dan Tuhan” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Jika hidup ini adalah misteri. Dimana sudah diciptakan sedemikian rupa bahkan jauh-jauh hari sebelum kita ada. Dengan detil tanpa cela dan rancangan super sempurna yang bahkan tak mampu dilampaui akal dan otak manusia yang digadang-gadang telah berevolusi lebih cepat dari dari makhluk hidup lain. Aku menyebutnya dengan takdir. Bukan hanya manusia bahkan sebuah partikel pun punya takdirnya sendiri. Takdir yang misterius, tak bisa diterka-terka, tak sanggup dihitung-hitung apalagi hanya ditebak. Mungkin kaum atheis sedikit berbeda. Mereka menggangap kelahiran, kematian dan segala apapun yang terjadi hanyalah kebetulan semata. Tak ada urusan dengan segala hal yang tak dapat dicerna dengan logika. Seperti mereka menggangap dunia ini memang terjadi begitu saja. Mereka hanya bisa percaya pada apa yang bisa otak percaya. Urusan takdir, misteri ataupun penciptaan mungkin hanya diperuntukan untuk orang yang di dadanya masih ada secuil iman. Dan misteri hidup yang telah dirancang jauh-jauh hari itu tengah kujalani. Aku belum menemukan alasan mengapa tersudut di kontrakan sumpek ini. Tidur berdesak-desakan seperti kelelawar. Dengan cuaca Jakarta yang selalu panas membuatku seperti dimasukan dalam panci yang mendidih. Entah kenapa membuatku rindu rumah, homesick kah istilahnya?

Padahal baru dua bulan aku pindah ke Jakarta. Dengan cita-cita setinggi langit dan semangat meletup di dada kutinggalkan kampung halaman hanya bermodal ijazah SMA. Namun, Jakarta tetaplah Jakarta. Belas kasih bukanlah sifatnya. Aku bekerja seadanya, dari pagi sampai malam. Cukup dua bulan saja, hanya dua bulan Jakarta mampu merontokkan bintang mimpi di langit yang kurangkai sejak dulu. Menjatuhkan mimpiku sampai di titik nadir. Hingga akhirnya kini kutemukan diriku tersudut di kontrakan ini. Kontrakan dua lantai dimana lantai bawah menjadi multifungsi juga sebagai tempat parkir motor para penghuninya. Aku yang tinggal di lantai dua dan berdesak-desakan harus pintar-pintar mencari ruang sekedar untuk merebahkan tubuh. Entah kenapa, akhir-akhir ini seperti ada yang selalu menggangu tidurku. Seperti kali ini, aku terbangun dan menatap sekeliling semua masih terlelap. Sepertinya insomniaku makin parah. Kulihat masih pukul dua dinihari. Dengan alasan untuk mencari udara segar aku menuju ke lantai atas. Satu-satunya jalan menuju lantai atas adalah melalui sebuah tangga yang terbuat dari besi yang sudah sangat rapuh. Tiap kali kuinjak anak tangganya selalu berbunyi “kreek”. Yang kumaksud dengan lantai atas adalah sebuah tempat tanpa atap yang sekelilingnya dijaga oleh pembatas yang terbuat dari kawat. Tempat ini lebih sering digunakan untuk mencuci pakaian dan menjemurnya sekaligus. Udara malam Jakarta langsung menyambutku. Kuhirup pelan-pelan udara yang banyak mengandung racun. Bukan hanya polusi tapi juga keegoisan yang menyesakkan dada.

Kubagikan pandanganku ke sekitar. Lampu-lampu gedung yang tak pernah mati, mobil-mobil yang tak pernah berhenti dan masih banyak orang yang terjaga. Jakarta memang tak pernah tertidur. Tapi sejak pindah kesini pandanganku selalu tertarik pada sebuah apartemen mewah yang tepat di samping kontrakan ini. Menjadi semacam tempat perbandingan bagi kami. Tiap malam kami sering mencuri lihat dari jendela apartemen yang terbuka bagaimana cara penghuninya mengisi perut. Semuanya rapi, elegan dan mewah. Sebotol wine dan berbagai makanan asing yang tak pernah mampir di mulut kami selalu tersaji di meja makan. Semuanya berkelas dan penuh etika tidak seperti kami yang lebih mirip serigala saat mengisi perut. Maka seperti kutemukan sebuah paradoks. Dan, kami bagai venus yang dingin yang selalu menatap iri pada bumi yang hangat. Hingga suatu ketika ada salah satu teman yang menyeletuk “Tuhan tidak adil ya?”
Semuanya terdiam, entah karena setuju atau bingung. Sementara aku berada dalam kelompok orang yang bingung. Bukan dalam masalah substansi pertanyaanya tapi dalam masalah “Tuhan”nya. Namun aku bukanlah dalam golongan manusia yang tidak percaya pada keeksistensian Tuhan. Mental yang sejak dini dibentuk dengan agama seperti mengaji walau sering bolos, mengerjakan sholat walau lebih sering absen. Tetap membuatku percaya ada sesuatu yang mengatur segala kerumitan konstelasi-konstelasi seluruh galaksi ini. Namun sampai sekarang aku belum menemukan intisari dari pertanyaan “Apa itu Tuhan?”

Banyak yang bilang “Jika kita menemukan cinta maka kita akan menemukan Tuhan”
Aku kembali berpikir, lalu apa itu Tuhan? apa itu cinta?. Jadi saat kita menemukan salah satu maka kita akan mendapatkan keduanya sekaligus. Aku tidak berhenti berpikir. Apakah mungkin cinta dan Tuhan itu seperti mata koin? mereka bersifat tunggal, satu. Satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Mungkinkah mereka saling terikat dan mengikat? lalu seperti sebuah pepatah lama: satu jawaban akan memunculkan seribu pertanyaan. Pernyataan tentang cinta dan Tuhan apakah diperuntukan untuk semua golongan? termasuk kaum h*mos*ksual ataupun le*bian? apakah saat mereka menemukan “cinta” versi mereka mungkinkah mereka juga telah menemukan Tuhan?

Aku menghela nafas. Benang ini makin mengusut. Ketika ruang pertanyaan ini sedikit dimasuki cahaya jawaban hanya membuat kabut gelap makin pekat. Semua runyam dan rumit. Masalah Tuhan memang bukan masalh sederhana. Kita sedang membicarakan penggerak milyaran partikel di alam semesta ini. Otak manusia yang hanya seukuran batok kelapa itu mungkin masih butuh waktu panjang untuk menggapainya. Hati ini terasa makin berat ada sesuatu yang mengganjal disana. Refleks aku menatap ke langit. Mungkinkah dia bersemayam disana? Langit malam menatapku dengan angkuh. Puluhan bintang yang ia sebar sekenanya menjadi pelengkap kesombongannya. Sepertinya ia tak ingin membagi tahu rahasia Tuhan yang sudah jutaan tahun ia simpan rapat di lembar-lembar awannya. Entah mengapa, jika mengingat tentang Tuhan aku mengingat salah satu temanku. Label “teman” yang kuberikan padanya hanya karena salah satu temanku yang lain pernah mengenalkan aku padanya dan kami setidaknya pernah mengobrol. Dia adalah wanita karir yang sukses dengan usianya yang masih sangat muda. Pekerjaannya di salah satu perusahaan asuransi besar menuntutnya untuk selalu tampil prima sehingga kesan perfeksioin tergambar dalam tindakannya. Dan tiap kali aku ngobrol dengan Lestari begitu dia ingin disebut. Entah kenapa aku diserang gejala minder yang hebat. Auranya yang kuat selalu berhasil mengintimidasiku. Bagai dinosaurus dan semut. Dengan tahu diri aku selalu menjaga jarak dengannya takut bila dia pingsan mencium bau kemelaratan dariku. Segala tentang Lestari selalu menarik tapi hal yang paling menarik darinya adalah pilihannya untuk berpindah agama bukan hanya sekali tapi sudah empat kali. Pernah dengan memberanikan diri aku bertanya tentang hal itu.
“Lestari maaf sebelumnya. Menurut kamu Tuhan itu apa?” yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah mengapa dia bisa mudah saja berpindah haluan agama sampai empat kali.
“Ahh… apa yang bisa kubagikan padamu kawan” hatiku langsung mekar hanya karena dia menyebutku kawan.
“Hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat intim. Begitu banyak cinta, begitu banyak rahasia. Tak ada yang bisa kau berikan padanya selain rasa percaya. Keintiman itu bahkan melebihi hubungan Adam dan Hawa”
Aku terpana
“Jika kau bertanya padaku tentang apa itu Tuhan? Tuhan itu apa yang bisa kau lihat, apa yang bisa kau dengar, apa yang bisa kau yakini dan apa yang bisa kau rasa. Sebenarnya Tuhan itu berjalan bersama kita, melihat apa yang kita lihat, mendengar apa yang kita dengar dan merasa apa yang kita rasa. Bahkan Tuhan itu lebih dekat daripada urat nadi. Tuhan itu mencakup segala sesuatu yang dapat terlihat maupun tidak. Apakah kau mengerti?”
Aku mengganguk saja walaupun kalimat-kalimat penuh makna itu terlalu sesak untuk bisa masuk semuanya di kantong intelejensiaku yang terbatas.
“Tapi ingat kawan, penjelasan bukanlah seperti pengalaman. Aku bisa berkata apa saja tapi jika kau tidak pernah mengalaminya sendiri jangan pernah percaya! Aku menjawab pertanyaanmu sesuai pengalamanku” mata lestari makin berbinar ketika menjelaskannya.

Aku tahu pengalaman apa yang telah ia lewati untuk menemui hakikat Tuhan. Walaupun sebenarnya aku juga mendengar kabar ini dari teman yang lain. Dia pernah berkunjung ke Bali, Aceh, Thailand bahkan juga Vatikan untuk menyelesuri berbagai agama. Untuk bertegur sapa dengan Tuhan. Dia bukan manusia yang menerima begitu saja apa yang sudah “ditumpahkan” ketika lahir. Dia lebih memilih tersesat daripada menerima keadaan begitu saja. Aku makin tertarik dan penasaran.
“Jadi kamu percaya Tuhan itu ada?”
“Pertanyaan seperti itu hanya melecehkan keeksistensian Tuhan yang agung”
Ada sesuatu kekuatan misterius yang meletup-meletup ketika Lestari bicara. Aku tak tahu itu apa.
“Itu alasan kamu pindah agama?” kusuguhkan pertanyaan yang sejak tadi kuburamkan.
Keningnya tiba-tiba mengkerut. Mungkin pertanyaan itu tidak terlalu etis kutanyakan sebagai teman yang baru kenal.
“Maaf…” sergahku langsung
“Tak mengapa. Kau bukan orang pertama yang bertanya seperti itu” Lestari menarik nafas sebentar. Mengumpulkan jutaan bintang gemintang makna yang tersimpan di kepala dan hatinya.
“Seperti yang kubilang, hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat intim. Seperti aku. Kedekatan antar manusia dengan Tuhannya itu relatif, beda satu sama lain. Kau tidak bisa mengsamaratakan intensitas kedekatan tiap manusia dengan Tuhannya harus sama dengan tiap manusia lainnya. Bentuk kedekatan itu, keintiman, percaya, cinta dan pengabdian yang diberi label berbeda-beda tiap manusia tergantung bagaimana mereka mengintrepresentasikan dari intensitas itu adalah definisi agama bagiku”
Mendengarnya kepalaku mendadak pening.
“Dan juga agama adalah sebuah perjalanan bagiku. Saat kau lahir kau diberikan kaki untuk memulai perjalanan lalu karena perjalanannya masih jau kau menggunakan sepeda. Di tengah jalan ternyata ada sungai. Kau tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan sepeda kan? Akhirnya kau meletakan sepedamu untuk menggantinya dengan rakit atau perahu”
Aku sedikit paham maksud Lestari. Dia menganalogikan keputusannya untuk pindah agama sebagai perjalanan hidup yang tak mungkin bisa dihindari.
“Jika suatu saat nanti kau telah sampai di tujuan. Apakah mungkin kau melupakan mereka? Tidak kan? Mereka juga yang telah membantumu pelan-pelan untuk sampai di tujuan. Menemukan hakikat hidupmu”
Aku merasa ciut. Aura milik Lestari benar-benar mampu menenggelamkan apapun di sekelilingnya.
“Tapi ingat! Jangan pernah percaya kata-kataku jika kau tidak mengalaminya sendiri”
Aku mengganguk-angguk dengan cepat seperti burung beo. Lestari tetaplah Lestari. Selain cantik dia mungkin adalah wanita langka yang dilahirkan seribu tahun sekali. Lepas dari itu semua dia tetap wanita menarik dalam segala hal terutama kepribadiannya. Dan kudengar kini dia telah menjadi penganut agama Budha. Satu hal yang bisa kutarik kesimpulannya dari semua obrolanku dengan Lestari adalah: yang pasti dia lebih wangi dariku. Kurapatkan tubuh ini untuk bersandar di kawat-kawat pembatas lantai atas ini. Pagi masih enggan untuk datang. Langit Jakarta masih saja gelap seperti kepalaku yang disesaki berbagai pertanyaan. Andai saja ada Lestari disini. Aku ingin menanyakan sesuatu yang belum sempat kupertanyakan waktu itu
“Apa itu cinta?”

Imajinasiku kemudian bekerja. Pasti Lestari akan menjawabnya dengan letupan-letupan imajinasinya yang melimpah yang maknanya akan bertaburan seperti bintang yang harus kutangkap satu demi satu dengan cepat agar tidak ada makna yang terlewat lalu kumasukan dalam kantong intelejensia dan kenanganku. Lestari telah menjadi orang yang bijak di usianya yang masih muda. Namun pertanyaan tentang apa itu cinta dan Tuhan masih mengambang di kepalaku. Aku jadi teringat akan sesuatu yang banyak menjadi inspirasi film, buku, novel atau sinetron. Cinta beda agama. Entah betapa banyak hati manusia yang nelangsa akibat cinta beda agama, beda iman. Terlalu banyak pertentangan hanya untuk mempersatukan dua sejoli ini. Cintamu dan cintaku adalah sama namun Tuhanmu dan Tuhanku adalah beda. Kalimat itulah yang mengiris-iris hati para pelakunya. Di satu sisi mereka tidak ingin meninggalkan Tuhan dalam sisi yang lain mereka juga tidak ingin meninggalkan cinta. Mereka tidak bisa mendapatkan keduanya sekaligus. Mereka harus memilih salah satu. Ditinggalkan Tuhan atau ditinggalkan cinta. Kedua pilihan bagai simalakama. Maka kenyataan ini berbanding terbalik dengan analogi Tuhan dan cinta itu seperti koin. Ternyata mereka beda, mereka tidak satu. Merka seakan berdiri masing-masing. Kenyataan ini membuat lidahku terasa pahit. Ternyata cinta dan iman adalah beda rasa. Menganalogikakannya dengan suatu bentuk tunggal mungkinkah sebuah kesalahan?
Ternyata benar, dunia ini lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Satu jawaban hanya akan menarik berbagai benang gelap pertanyaan untuk muncul ke permukaan. Dunia bukan hanya diisi hitam dan putih tapi juga abu-abu yaitu sisi dimana semuanya masih buram, tidak jelas, tidak pasti dan kompleks. Tuhan dan cinta sepertinya berdiri di sisi itu. Aku yang selalu dipenuhi kluputan mencoba sedikit bijak. Bahwa segala sesuatu tidak pernah diciptakan mubazir. Bukan hanya sisi putih tapi dunia tetap juga membutuhkan sisi hitam dan abu-abu. Untuk menjaga kerasionalitasan manusia agar manusia tidak berhenti mencari karena kebenaran yang tunggal hanya milikNya. Agar manusia tidak hanya menjadi seonggok daging tanpa arti. Bukankah dengan memakan buah khuldi akhirnya Adam dan Hawa bisa membedakan mana baik dan buruk. Segala sesuatu saling bersangkut paut. Baik itu baik, buruk atau masih belum jelas. Segala sesuatunya memang diciptakan Tuhan begini adanya. Dengan segala kerumitannya, hitungannya dan tingkat kemisteriusan yang selalu dijaga oleh Tuhan agar manusia tahu betapa lemahnya mereka. Sehingga apapun yang manusia ubah, mereka capai dan mereka temukan tetap belum bisa menyingkap kabut milik cinta dan Tuhan. Hidup dan nasib memang fantastis dan sporadis. Menerima itu semua berarti kita juga menerima “ketidak jelasan” Tuhan. Menerima kenyataan cinta dan Tuhan adalah pertanyaan dengan pangkal tanpa ujung yang jelas.
Aku menghela nafas lagi. Membiarkan beban hidupku ikut lepas. Akhirnya aku mencoba larut dalam pasrah. Biarkan semua terjadi sesuai dengan kehendak Nya. Tak usah aku terburu-buru menyingkap misteri hidupku. Biarkan semua mengalir. Segala sesuatu yang belum waktunya hanya akan menimbulkan jawaban yang sembrono.

Perlahan suara adzan Subuh terdengar sayup-sayup membelai kota Jakarta. Ternyata aku sudah melamun berjam-jam untuk memikirkan arti cinta dan Tuhan. Dengan hasil kosong. Tapi entah kenapa aku merasa telah menemukan jawabannya. Jawaban itu hanya bisa dimengerti olh hati dan logika tidak pernah bisa ikut campur. Mataku menatap langit dan seakan juga sedang menatap mata Nya. Hatiku berbisik lirih “Terima kasih Tuhan”
Telah kuhabiskan sepotong malam untuk menemukan hakikat cinta dan Tuhan namun sepertinya waktu seumur hidup pun tidak akan cukup untuk menjabarkannya. Jadi kupersembahkan sepotong malam tadi untuk cinta dan Tuhan. Untuk mereka yang membuat hidup umat manusia jadi lebih berarti. Aku hanya bisa menarik sedikit benang kesimpulan. Jikalau cinta dan Tuhan memang menjaga keeksistensian dan keindahanya yang agung dalam nur yang disebut misteri.

Cerpen Karangan: R.A.P
Facebook: www.facebook.com/agung.c.sum

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Bagaimana Mungkin?” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Sinar matahari menembus kaca kamar dan membuatku harus terpaksa bangun. Pertama membuka mata dan “Selamat ulang tahun Diniiiii”, sorak ketiga temanku, Ibu, Ayah dan Tri. Hari yang bersinar ini selalu aku tunggu karena di hari ini aku telah menjadi wanita dewasa, ya umurku 17 tahun hari ini.

17 tahun yang lalu, aku dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat mulia. Aku terlahir ke daerah fana ini dengan keluarga yang cukup. Ayahku seorang kontraktor dan sampai sekarang pun aku masih anak tunggal. Setiap pulang sekolah aku selalu mencari Ibu untuk bercerita. Dia sungguh Ibu yang baik. Selalu mau mendengarkan ceritaku walau dia sedang sibuk. Ibu sedang masak pun aku selalu mengoceh tapi Ibu hanya bilang “Terus?”. Setiap pulang sekolah Ibu selalu bilang “Bagaimana hari ini?”. Ibu pernah bilang “Walaupun seluruh dunia menjauhimu, percayalah Ibu dan Ayah akan terus ada disini, di sampingmu dan disaat kamu merasa sendiri datanglah pada Ibu, Ibu akan selaluuu mendengar ceritamu”.
“Are you promise?”, mengajukan jari kelingkingku.
“Yes”, melingkarkan jari kelingkingnya.
“Sebelum tiup lilin make a wish dulu”, kata Cindy.
“Ya Allah aku mohon suasana akan selalu sebahagia ini”, ucapku dalam hati. Belum pernah aku merasa sebahagia ini. Betapa tidak? Semua yang aku cintai ada di depan mata disaat aku bangun dan mereka tetap berdiri menungguku tersadar dari alam mimpi, aku pun tak tau sejak kapan mereka berdiri disitu. Cindy adalah sahabatku sejak SD, Dina sahabatku sejak SMP, Melati sahabatku di SMA, betapa beruntungnya aku, kami dipertemukan lagi di SMA. Dan lebih beruntungnya aku menemukan Tri. Dia pangeran berkuda yang datang menjemput putri bergaun merah muda. Itu yang selalu aku dengar dari cerita Ibu saat masih SD dulu. Dan sepanjang masa aku selalu mengharapkan pangeran berkuda putih itu, kini dia datang. Sungguh, Ibu tak bohong padaku. Dia sosok yang selalu bisa aku banggakan di depan temanku karena dia memiliki segudang prestasi di bidang akademik.

Hari itu saat usiaku genap 17 tahun aku merasa aku orang paling bahagia. Tapi sebelum Ibu menghancurkan semua daftar yang aku buat hari ini.
“Ibu ingin di hari ini kita menghabiskan waktu hanya berdua”, desak Ibu.
“Ibu aku bukan anak kecil lagi”, aku medengus.
“Tapi Ibu ingin sekali ini saja merayakannya seperti dulu”, desak Ibu lagi.
“Sekarang aku sudah besar Ibu, aku sudah dewasa, umurku 17 tahun bukan balita yang Ibu gendong kemana-mana lagi”, komentarku makin kesal.
“Tapi kamu tetap putri kecil Ibu yang lucu”, jawab Ibu lembut.
“Aku sudah membuat jadwal bersama Cindy, Dina, Melati dan Tri bu, bukankah hari itu Ibu sudah menyetujuinya?”, dengan muka kesal.
“Apa kamu lebih mementingkan teman dari pada Ibu?”,tanya Ibu dengan tampang sinis.
“Tapi bu…”
“Ibu akan sangat senang jika kamu mau”, potong Ibu sebelum aku berkomentar lebih banyak.
“Hanya hari ini”, kata Ayah.

Dengan berat hati aku terpaksa membatalkan rencanaku bersama mereka hari ini. Sungguh hari yang menyebalkan. Dengan wajah terpaksa dan sangat cemberut aku duduk di atas motor yang dikendarai Ibu. Ayah tak dapat ikut karena harus ke lokasi hari ini. Hari libur pun Ayah tak punya waktu untukku. Tapi tak apalah… Aku terpaksa ikut dan aku harus ikut. Aku tak mau tau kemana motor ini melaju yang aku tau sekarang aku kesal, kesal dan sungguh sangat kesal pada Ibu. Bagaimana mungkin dia dapat membatalkan semua rencana yang jelas-jelas sudah diizinkannya? Aku sudah merancang hari ini dari seminggu yang lalu, tapi hancur lebur hanya karena keinginan Ibu untuk merayakan hari ulang tahun berdua dengannya. Ya hanya berdua.

Sepanjang jalan di dalam hati aku hanya mendengus menyesali hari ini. Kenapa harus begini? Aku kan jadi segan sama mereka. Rencana yang sudah sangat matang, harus terkubur dalam-dalam.
“Sudah jangan mengatai Ibu lagi”, kata Ibu dan membuat aku sangat tersentak. Bagaimana Ibu bisa tau kalau aku mendengusinya terus?
“Ibu hanya ingin hari ini saja, hari ini saja”, kata Ibu lagi.
“Ya ya ya”, jawabku dengan sangat malas.
“Kita punya banyak tempat yang akan kita kunjungi hari ini”
“Oke”, jawabku singkat.

Setelah cukup lama Ibu mengendarai motor maticnya, kami pun sampai di sebuah pusat perbelanjaan di kota ini. Telusur demi telusur kami sampai di sebuah toko yang Minggu kemarin kami datangi.
“Kamu boleh ambil baju itu”, menunjuk baju yang Minggu kemarin aku renggut padanya.
“Are you sure?”, jawabku tak yakin.
“Kenapa tidak?”, sambil tersenyum.
“Tapikan mahal banget bu”, jawabku.
“Ibu sudah kumpulkan uang untuk hari istimewa ini”, tepis Ibu dengan senyuman paling indahnya.
Aku sangat terharu, ternyata Ibu sudah merencanakan hari ini dengan sangat matang. “Terimakasih Ibu”, jawabku terharu sambil memeluk Ibu.
“Sudah ambil gih sana, ntar diambil orang loh”, kata Ibu melepaskan pelukannya.

Aku segera berlari dan meraih baju itu. Dress berwarna hijau lembut tanpa lengan dan simple itu dalam sekejap menjadi milikku. Dress itu seminggu yang lalu aku rengut pada Ibu. Tapi Ibu tak ingin membelikannya karena harganya yang sangat mahal. Teman-temanku juga menginginkannya tapi sekarang apa yang mereka impikan telah menjadi milikku hehe…
“Kita mau kemana lagi bu?”, tanyaku saat ke luar dari toko baju.
“Kamu lapar?”, tanya Ibu saat berjalan menelusuri jalan ke luar dari pusat perbelanjaan ini sambil merangkulku.
“Sedikit”, jawabku singkat.
“Mau makan dimana?”
“Ibu kok baik banget hari ini?”, tanyaku dengan tatapan sinis.
“Kalau gak mau ya udah”, jawab Ibu cuek.
“Oke oke. Gimana kalau kita makan sate bu? Kepingin niiii”, dengan tampang memelas.
“Oke, dimana?”
“Di dekat sekolahku ada sate enak loh bu, Ibu belum coba kan? Kalau Ibu makan pasti ketagihan deh”, kataku mencoba merayu Ibu.
“Masa?”, jawab Ibu jutek.
“Iya, teksturnya itu loh ma yang beda, pedasnya? Ughhh…”, sambil mengeluarkan lidah dan membasahi bibir.
“Hahaha kamu ini”, kata Ibu sambil merusak tata rambutku.
“Ibuuu… kan gak cantik lagi deh” dengusku sambil merapikan rambut.

Setelah selesai makan.
“Ibu sayang padamu”, katanya sambil menatap mataku dalam.
“Kenapa Ibu berkata seperti itu?”, tanyaku bingung.
“Apa kau sayang pada Ibu?”, tanya Ibu.
“Sayang sekali”, kataku singkat.
“Maafkan Ibu udah jadi Ibu yang menyebalkan karena membatalkan rencanamu hari ini bersama mereka”, kata Ibu sambil memegang mataku.
“Tadi mereka sudah kukasih tau, dan mereka bisa mengerti kok, Ibu tenang saja”, jawabku.
“Ibu hanya takut lain kali tidak bias membuatmu tersenyum lagi seperti hari ini”, kata Ibu dan membuat aku makin resah.
“Ibu apa-apaan sih. Ini kan hari bahagia aku, kenapa dibuat mellow gini?”, dengusku.
“Ibu hanya ingin kau tau, Ibu sangat mencintaimu”, jawab Ibu dengan senyuman indahnya.
“Ya aku tau, aku lebiiih banget cinta Ibu”, jawabku sambil memeluk Ibu.
“Kita mau kemana lagi?”, tanya Ibu memecahkan suasana.
“Terserah Ibu aja deh”, jawabku.
“Gimana kalau kita beli kue ulang tahun saja?”, usul Ibu.
“Ayoook”, jawabku dengan antusias..

Selama di perjalanan aku selalu bercerita pada Ibu. Aku beruntung mempunyai Ibu sepertinya. Bagaimana tidak? Dia bisa menjadi teman sekaligus Ibu untukku. Terimakasih Allah.

Saat kami telah sampai di seberang toko kue. Aku berkata, “Bu, Ibu saja deh yang ke seberang, aku pingin beli pulsa dulu disini”
“Tapi kan kita bisa pilih kue berdua disana”
“Aku selalu suka apapun yang Ibu suka”
“Ya udah motornya Ibu letakkan disini aja ya, kamu hati-hati, Ibu cuma sebentar kok”
“Iya bu”

Baru selesai aku membeli pulsa dan berbalik badan, aku melihat banyak kerumunan orang-orang dan ada yang berteriak “Bawa ke rumah sakit secepatnya”. Aku segera berlari kesana. Menarik orang-orang yang mengahalangiku. Aku melihat sesosok wanita tergeletak di aspal dengan kepala dilumuri darah. Terdiam. Sedih. Bingung. Terpaku dan meneteskan air mata. Memeluknya. Di sampingnya kulihat ada sebuat kue yang tak tau bentuknya dan seikat bunga mawar kesukaanku.
“Telfon ambulan sekarang!!!” perintahku.
“Siapapun bantu aku” kataku dengan tersedu.
“Ibu? Bertahanlah” kataku sambil mengelus pipi Ibu.
“Allah” jawab Ibu lirih.

Beberapa saat kemudian ada seorang pria yang berbaik hati menumpangkan mobilnya untuk kami. Di dalam mobil Ibu berkata dengan lirih “Ibu mencintaimu”
“Aku juga” sambil mencium Ibu.
Aku menelfon ayah. “A..Yah..” kataku tak tahan menahan nangis.
“Apa sayang? Kenapa kamu menangis?” Tanya ayah heran
“Ibu yah..”
“Kenapa dengan Ibu?”
“Ibu kecelakaan”
“Apaaaa?! Dimana kalian sekarang?”
“Ayah datang saja ke rumah sakit Senja”
“Oke Ayah segera kesana”

Setelah sampai di rumah sakit terdekat aku melihat banyak suster yang menolong Ibu. Ibuku dibawa ke sebuah ruangan Unit Darurat yang aku sendiri saja tak boleh masuk. Apa mau dokter-dokter itu? Aku anaknya. Aku berhak mengetahui keadaan Ibuku. Aku hanya duduk di depan pintu dengan air mata yang terus mengalir. Banyak yang menatapku heran, tapi aku sudah tak perduli pada tatapan orang asing itu. Yang ada di fikiranku hanya bagaimana keadaan Ibu?

Selang beberapa jam Ayah datang dengan tergesa, saat melihatku dia berlari ke arahku dan berkata “Mana Ibu?”
“Ada di dalam, Yah”, jawabku dengan tatapan kosong.
“Bagaimana ini bisa terjadi?”, tanya Ayah dengan cemas.
“Aku tak tau”, jawabku sambil menangis.

Dokter keluar dari ruangan Ibu. Aku dan Ayah langsung menghampiri dokter.
“Bagaimana keadaan Ibu kami dok?,” tanyaku menghapus air mata.
“Maaf”, kata dokter dengan wajah tertunjuk.
“Kenapa dok?!”, bentak Ayah.
“Allah berkehendak lain”
Runtuh. Gemuruh menghampiriku. Bagaimana mungkin? Dia Ibuku. Tak mungkin!!!
“Yah, dokternya gak serius kan?” kataku menggelengkan kepala.
“Yah jawab aku” dengan suara tersedu.
“Yah…”
Ayah hanya menggelengkan kepala dan memelukku. Aku merasakan tangisan Ayah di dalam pelukannya. Kami segera memasuki ruangan Ibu. Aku melihat ada sesesok di balik kain putih itu.
“Bu, Ibu dulu janji katanya gak mau buat aku sedih, katanya gak mau buat aku nangis. Sekarang kenapa? Ibu lupa sama janji Ibu? Dulu Ibu janji gak bakal tinggalin aku. Sekarang? Ibu pembohong. Dulu, Ibu janji kalau aku nangis, Ibu bakal hapus air mata aku. Sekarang? Ibu pembohong. Dulu Ibu janji sama aku bakal selalu di samping aku, tapi Ibu bohong. Kenapa Ibu pergi? Kenapa Bu? Ibu mau tinggalin aku sama Ayah berdua aja? Kenapa secepat ini, Bu? Ibu, jawab aku! Ibu… Bu…”, dengan suara tersedu dan memeluk Ibu.

Cerpen Karangan: Arviani
Blog: Arviani-arviani.blogspot.com
Twitter: @arvianii
Facebook: Arviani Nuriska
Line: Arvianii

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Pria Bawahan Dewi Fortuna” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

“Kalau saja angin tak sekencang ini pasti aku udah jalan bareng sama Vinni, sial!” gerutuku di depan jendela. Selalu saja begini. Ayah, kakak, adik, abang, semuanya terlalu ikut campur dalam kehidupanku. Aku hanya merasa kesal, seharusnya waktuku bisa kuhabiskan seperti remaja-remaja yang lain tapi semua orang terlalu otoriter, ingin mengatur lebih dalam, aku hanya tak suka.
“Mbak, kenapa? Kesal ya? Mau aku beliin kuaci?” pertanyaan polos dari Geni, Adikku yang berumur 10 tahun.
“Boleh, tapi kamu pergi pakai apa? Kan di luar angin kencang, Mbak aja gak boleh, apalagi kamu” ketusku.
“Oh iya, tapi aku coba minta temanin ke Kak Puput deh, moga aja dia mau”, jawabnya dengan riang.
“Gak usah, dia pasti sibuk dengan dunia musiknya”, ketusku lagi.
“Kalau Mas Erhan mau gak ya Mbak?” tanyanya takut-takut.
“Gak usah Gen, Mbak gak papa kok” jawabku lembut.
“Tapi Mbak..”
“Gak papa” potongku melihat Geni mulai putus asa.
Kami hanya membisu dalam kediaman dan bergerilya dengan fikiran masing-masing. Sampai akhirnya aku mencoba membuka pembicaraan.
“Mbak baru beli boneka spongebob bisa bicara, tapi baterainya gak ada, kamu cari gih” perintahku.
“Serius Mbak? Mana mana?” girangnya.
“Ambil dalam tas sekolah Mbak”. Dia pun dengan girang ke luar kamar dan memeluk boneka spongebob yang kusebut punyaku padahal kubelikan untuknya. Aku selalu mempertimbangkan gengsi saat ingin memberikan sesuatu pada siapapun. Aku tau sifat buru ku itu tak mungkin dapat ku pertahankan, tapi sampai sekarang pun aku belum menemukan penakarnya.

Rasa bosan mulai menggentayangiku. Disaat seperti ini Mas Erhan sangat kubutuhkan. Aku pun berlari menuju kamarnya. “Maaas!!!” teriakku sambil berlari membuka pintu kamarnya.
“Cerita apa lagi ni? Mohta? Bayu? Atau…” jawabnya yang sibuk dengan film Indianya. Ya Mas Erhan memang anak band, tapi sebenarnya dia suka banget nonton India, dua hobi yang sangat bertolak belakang, aku ragu, jangan-jangan Mas Erhan ini punya kepribadian ganda..
“Bukan!!!” teriakku.
“Jadi?” jawabnya yang masih sibuk membereskan kaset Indianya.
“Aku kangen Ibu” suaraku merendah dan aku mencari jawaban dari responnya. Tepat! Dia juga kangen!
“Terus?” jawabnya sok-singkat.
“Aku pingin cerita sama Ibu, Mas” rintihku.
“Menurut kamu, apa untungnya bicara sama benda mati?!” tegasnya.
“Mas, terimalah, Ibu memang sudah tak ada, tapi dia selalu di dekat kita” jelasku dengan pelan.
“Kenapa gak cerita sama Mas aja sih?” nadanya mulai merendah.
“Aku Cuma minta diantar aja kok, soalnya gak boleh pergi sendiri sama Ayah, ntar aku pulang bisa pakai kendaraan umum kok. Tapi, kalau mas gak mau juga gak papa. Tapi, kenapa liatin aku sampe segitunya?” jawabku panjang lebar dan mas Erhan Cuma ngeliatin aku aja.
“Udah siap ceramahnya? Mending ganti baju cepat sebelum Mas berubah fikiran” jawab Mas Erhan sambil menatapku sinis.
“Oke” berlari dan memberikan kecupan pertamaku di pagi Minggu.

Kebiasaanku di pagi Minggu adalah menjumpai Ibuku di tempat dimana aku akan menyusulnya cepat atau lambat, kuburan. Ibu meninggalkan kami 2 tahun yang lalu tapi sampai detik ini pun Mas Erhan masih belum terima kepergian Ibu. Di bulan pertama kepergian Ibu, Ayah memang sulit mengontrol kami sehingga dia terlalu over protektif terhadap kami, aku khususnya. Entah mengapa, dia jadi terlalu sering pulang kerja lebih awal hanya untuk memastikan aku telah sampai di rumah tepat pada jamnya. Tapi semenjak kepergian Ibu juga, Ayah sering menggunakan waktu liburan untuk tetap berkutat dengan map-map yang harus dia selesaikan secepatnya.

Di tahun pertama kepergian Ibu, Ayah sering menghabiskan pulsa hanya untuk meyakinkanku telah makan siang. Aku hanya bosan mendapat telfon dari Ayah setiap sehabis solat Zuhur, jadi kuputuskan hari itu untuk tidak membawa ponsel, aku tak mengira kecemasan Ayah lebih dari yang kubayangkan, dia sampai harus meninggalkan map-map yang selama ini memberi kami makan hanya untuk mendatangi ke sekolahku dan meyakinkan aku telah makan siang. Terlalu berlebihan memang bagi sebagian orang, begitu pun bagiku di awal tapi sekarang aku mulai mengerti kenapa Ayah terlalu over terhadapku. Satu-satunya alasan, dia hanya takut aku mengidap penyakit yang sama dengan Ibu.

“Bu, ini tepat 2 tahun Ibu ninggalin kami, sekarang aku betulan kangen Ibu! Aku Cuma kangen digosokin punggung sebelum tidur aja” rintihku dalam hati saat di kuburan Ibu.
“Jangan lama-lama” ketus Mas Erhan.
“Ibu aku pulang dulu ya, ya Allah titip salam rindu untuk Ibuku” pintaku.

Pagi berganti pagi selalu saja ku lewati kegiatan monoton tanpa hiburan. Pagi ini aku memilih menggunakan angkot ke sekolah dan diizinkan Ayah dengan petuah yang tak henti sampai aku di depan pintu rumah. “Nanti jangan lupa makan siang ya Mbak, ntar maag nya kambuh”, tambah Ayah.
“Iya iya Ayah”, kecupku lalu berjalan meninggalkan rumah.
Pagi-pagi sekali aku telah sampai di sekolah. Tapi.. Di laciku ada sebuah surat! Setelah kubuka ternyata surat cinta teruntuk Vinni. Vinni adalah teman sebangkuku yang jatuh cinta pada kakak kelas kami Dharma tapi yang menyukainya justru adik Mas Dharma, Tebby. Lucu memang, tapi semua tak bisa dipungkiri. Akhir-akhir ini Tebby sering mengirimi Vinni surat.

“Ta, pinjam pena boleh?”
“Punyaku Cuma satu”
“Oh ya udah, makasih”
“Tapi pakai aja, aku beli lagi aja nanti”
“Yakin?”
“Iya”
“Makasih”
Dooooooor HAHAHAHA baik amat!!! Demi planet neptunus dan tatanannya aku jatuh cinta pada seorang pria bawahan Dewi Fortuna bernama Komiko Mohta.
Semenjak hari itu, aku dan Komiko mulai dekat. Hanya sebagai teman, tapi dekat. Ah begitulah. Satu kelompok nari. Ya Cuma itu, tapi itu lebih. Mungkin.

Hari ini sedikit mendung, tapi kupaksakan datang ke sanggar untuk menyelesaikan pelajaran nari ini secepatnya. Ya aku tak suka. Sungguh tidak. Terlalu sulit untukku melentikkan jari, apalagi tubuhku, sangat sulit. Tak seperti biasanya, aku memilih pergi menaiki kendaraan sendiri hari ini, tanpa Ayah dan tanpa Mas Erhan. Sampai di tengah perjalanan, ada sebuah kendaraan lain yang ingin memotong dan mengambil jalanku, aku bingung harus bertindak apa, akhirnya..
“Plak” benturan itu terdengar jelas olehku. Aku hanya merasakan sesuatu mengucur dari keningku dan terlalu ramai mengerumuniku sampai aku tak sadarkan diri.

Saat itu aku sangat membutuhkan bantuan darah bergolongan AB+. Dari keluargaku, hanya Ibu yang punya golongan darah persis sepertiku. Perjuangan Ayahku sangat hebat. Selama aku di rumah sakit, tak sedetik pun dia meninggalkanku sampai akhirnya aku dibawa pulang.

Beberapa minggu kemudian..
“Udah sembuh?” sapa Komiko dengan coklat di tangannya.
“Lumayan”
“Nih buat kamu” memberikan coklat.
Aku hanya menatapnya sinis.
“Gak pake kacang, rasa vanilla, buat perbaiki mood” jelasnya.
Aku hanya memberikan senyum simpul untuknya.

Semenjak kecelakaan itu, aku terserang flu sampai satu bulan, aku hanya merasakan sakit biasa. Tapi Ayah tetap memaksakanku untuk memeriksakan ke dokter. Aku tak mungkin menolak permintaan Ayahku. Karena aku tau, semua yang dia lakukan untuk kebaikanku.

Hari itu, menjadi hari terburuk dalam kehidupanku. Bagaimana bisa aku terserang HIV. Segala kemungkinan berkecamuk dalam fikiranku. Sekarang ketakutan Ayahku benar-benar terjadi. Dia kan kehilanganku lebih cepat dari dugaannya. Aku bukan pergi karena penyakit Ibu, kanker, tapi HIV. Apa yang bisa aku lakukan selain menangis? Tapi aku tak ingin Ayah melihat tangisanku.

“Semua kita bakal ke tempat yang sama kok yah” memulai pembicaraan.
“Tapi gak mungkin, semua salah Ayah. Coba aja Ayah lebih teliti memilihkan pendonor untukmu” isaknya mulai kencang.
“Yah sudahlah, aku juga rindu dengan Ibu” sambil memeluk Ayah.
“Jadi kau suka meninggalkan Ayah?”
“Bukan begitu, Ibu sendiri disana, disini ada Mas Erhan sama Geni kok, Yah” jelasku.
“Emang Mbak mau pergi kemana?” Tanya Geni dengan boneka di pelukannya.
“Cuma mau ketemu Ibu aja” senyumku.
“Loh kok gak ajak Geni?” dengan polosnya.
“Geni disini aja temanin Ayah”
“Oh jadi Mbak mau kita bagi tugas gitu?”
“Iya, jaga Ayah baik-baik, jangan buat dia nangis”
Tiba-tiba Mas Erhan langsung memelukku dan menangis sejadi-jadinya.

Semakin hari, Komiko semakin giat mendekatiku, tapi aku berusaha menjauh karena aku sadar keterbatasanku. Vinni mulai menyadarinya. Setiap pulang sekolah, Komiko menjengkku di rumah sakit dengan coklat di tangan kanannya. Vinni setiap hari hanya bisa menangis melihatku. Aku sedih meninggalkan orang-orang di sekitarku, tapi aku lebih sedih di rumah sakit ini. Setiap hari ketahanan tubuhku semakin menurun. Ayah pun menghabiskan uang banyak untukku.
“Vin, aku pengen pergi lebih cepat”
“Kenapa?”
“Aku lebih sakit disini, melihat orang-orang meratapiku”
“Beri surat ini pada Komiko saat aku udah pergi ke tempat Ibu, aku mohon”
Vinni lalu memelukku dengan erat dan tak terdengar tangis, hanya isakan.

Malam itu Tuhan betul-betul bersamaku. “Ayah, jangan sedih-sedih lagi yaa”
“Mas Erhan, kuliah yang rajin, jagain Geni”
“Gen Mbak pergi dulu yaa”

Keesokan sore, Komiko mencariku di rumah sakit tapi tidak ada. Lalu dia ke rumah dan bertemu Ayah.
“Bagaimana mungkin Om?”
“Dia tertular melalui jarum suntik Nak”

Komiko pun berlari menghampiri peristirahan terakhirku dan bertemu Vinni, lalu dia memberikan selebar kertas sederhana.

Aku pernah dengar di sebuah film menyebutkan: Setiap manusia punya cita-cita, ada yang mengejarnya lalu mendapatkan, ada yang mengerjarnya tapi hilang begitu saja, ada juga yang hanya menguburnya sepanjang hidupnya. Sampai bertemu di ruang yang sama Komiko.

Cerpen Karangan: Arviani
Blog: Arviani-arviani.blogspot.com
Twitter: @arvianii
Facebook: Arviani Nuriska
Line: arvianii

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Kisah Cinta Yang Berujung Menyakitkan” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Sinar mentari yang begitu hangat membangunkan Hanna dari tidurnya. Hanna sangat bersemangat untuk bangun karena hari itu adalah hari pertama dia memakai baju putih biru setelah 1 minggu melakukan MOS (Masa Orientasi Siswa).

Sesampainya di sekolah, dia langsung disambut hangat oleh teman-teman dari SDnya dulu. Hanna merasa senang sekali bersekolah di SMP Pelita Jaya karena dia menemukan teman dari asal sekolah yang berbeda. Sudah 1 bulan Hanna bersekolah di SMP Pelita Jaya dan Hanna tidak pernah bosan berjumpa dengan guru-guru dan teman-temannya.

Di bulan itu, Sekolah Hanna mengadakan perkemahan dan Hanna pun ikut dalam perkemahan tersebut. Di perkemahan dia selalu diganggu oleh seorang kakak kelasnya yang bernama Andre. Andre ini yang selalu mengajak Hanna untuk adu mulut setiap mereka bertemu dan jarang sekali mereka akur. Teman-teman Hanna dan Andre pun mengejek mereka berdua dan mengatakan bahwa Hanna dan Andre adalah jodoh.

Seminggu setelah selesainya perkemahan tersebut, Andre pun menembak Hanna untuk menjadi pacarnya. Hanna pun menerimanya karena dari awal mereka bertemu Hanna sudah jatuh cinta kepada Andre dan Hanna selalu menutup perasaannya kepada Andre.

1 Minggu mereka jadian ternyata Andre selingkuh dengan teman sekelasnya yang bernama Nina. Hati Hanna saat itu begitu sakit karena Andre telah bermain di belakangnya.

Setelah kejadian itu, Hanna selalu kepikiran atas kejadian itu tapi dia selalu menutupinya dari teman-temannya karena Hanna dikenal seorang cewek yang humoris, friendly, semangat dan ceria jadi Hanna tak ingin teman-temannya larut dalam masalah Hanna.

1 bulan kejadian itu, ada seorang cowok yang selalu menghibur Hanna. Dia adalah kakak kelas Hanna sendiri yang bernama Virgo. Virgo ini adalah sahabat dari Andre jadi dia tahu apa yang Hanna rasakan saat itu. Pada suatu hari, Virgo pun menembak Hanna dan menyakinkan Hanna bahwa dia yang terbaik dan pantas menjadi pacar Hanna. Dan Hanna pun menerimanya.

Baru 4 minggu hubungan mereka berjalan, mereka pun mengakhiri hubungan mereka karena Andre selalu mendekati Hanna dan membuat Virgo marah dan cemburu. Hanna pun merasa kesal dan jengkel karena Andre selalu menganggu Hanna dan membuat Hanna diputusin oleh Virgo.

2 bulan kemudian, ada seorang cowok yang mendekati Hanna yang tak lain teman sekelas Hanna. Dia bernama Fausan. Fausan selalu berusaha agar Hanna bisa tertarik sama dia. Tepat tanggal ulang tahun Hanna, Fausan pun memberikan sebuah hadiah untuk Hanna. 3 hari setelah ulang tahun Hanna, Fausan pun menebak Hanna tuk menjadi pacarnya. Dan, Hanna pun menerimanya. Awal percintaan mereka semuanya berjalan lancar tapi hubungan mereka pun berakhir karena adanya orang ketiga di antara mereka berdua. Fausan selingkuh dengan Dinda. Dinda adalah cewek Play Girls dan suka tebar pesona kepada cowok-cowok di SMP Pelita Jaya. Dan, ketiga kalinya Hati Hanna dipermainkan. Hanna pun berpikir bahwa cinta itu ternyata adalah sebuah permainan seperti juga dengan piala yang bergilir dan seperti itulah pengertian cinta menurut Hanna sendiri.

Baru beberapa hari Hanna putus dengan Fausan, ada lagi seorang cowok yang mendekati Hanna. Dia adalah kakak kelas Hanna yang bernama Kiki. Kiki adalah seorang cowok yang humoris dan dapat membuat hati Hanna merasa terhibur. Tapi, baru 3 hari Hanna dan Kiki pacaran mereka pun putus karena adanya orang ketiga yang bernama Silvi. Silvi selalu berusaha dekat dengan Kiki agar Hanna cemburu. Saat Hanna melihat Silvi dan Kiki berduaan di taman belakang sekolah. Hati Hanna hancur dan sakit hati melihat kejadian itu. Hanna pun mengingat semua kejadian yang dia telah alami selama bersekolah di SMP Pelita Jaya. Yang ke-4 kalinya ia diselingkuhi.

2 minggu setelah kejadian tersebut, ada seorang cowok yang berusaha mendekati Hanna walaupun saat itu Hanna masih merasakan sakit hati tapi dia selalu menasehati Hanna agar tidak larut dalam kesedihan tersebut. Dia adalah kakak kelasnya Hanna juga yang bernama Erick. Ya Erick adalah seorang cowok yang selalu membuat hari-hari Hanna lebih berarti.

1 minggu kedekatan mereka, Erick pun menembak Hanna untuk menjadi pacar pertama dan terakhirnya. Hanna pun menerimanya karena sejak dari Hanna berteman dengan Erick, Hanna sudah mempunyai perasaan kepada Erick. Mereka pun menjalin hubungan dengan lancar tanpa penganggu. Tapi, baru 1 minggu hubungan mereka berjalan Fausan pun datang menganggu hubungan mereka berdua. Hanna pun terpengaruh atas perkataan Fausan. Selama seminggu Hanna tak pernah membalas sms atau mengangkat telfon dari Erick, setiap Hanna dan Erick bertemu Hanna selalu memalingkan wajahnya dan tak ingin bertemu atau berbicara kepada Erick. Erick pun selalu berusaha agar Hanna mendengarkan penjelasan dari Erick dan Hanna pun menerima semua penjelasan dari Erick. Hubungan mereka berdua pun kembali berjalan dengan baik tanpa pengganggu. Tapi, baru 2 minggu setelah pertengkaran mereka berdua. Datanglah Andre menganggu hubungan mereka berdua tapi mereka menghiraukan kata-kata dari Andre karena mereka tahu bahwa Andre berusaha melakukan segala cara agar Hanna dan Erick putus.

Pada suatu hari terjadi pertengkaran antara Hanna dan Andre karena Andre mengambil barang Hanna tanpa memberitahukannya kepada Hanna dan menghina serta menyebarkan fitnah kepada teman-teman Hanna dan Erick. Hanna dan Erick sabar atas semua cobaan yang diberikan kepada mereka berdua. Suatu hari Andre pun mendapat balasan atas segala yang ia lakukan kepada Erick dan Hanna. Setelah kejadian itu, Erick dan Hanna tambah lengket alias tambah romantis dan membuat teman-teman Hanna dan Erick cemburu atas tingkah mereka berdua. Tapi, hubungan mereka tidak berlangsung lama hanya sekitar 5 bulan 2 minggu karena ada orang ketiga di antara mereka berdua. Nama cewek tersebut adalah Ashilla. Dan ke-5 kalinyalah Hanna merasakan sakit hati yang begitu dalam. Hanna telah disakiti oleh Erick yang selalu membuat hari-hari Hanna menjadi indah. Semua kata-kata indah Erick yang ia berikan kepada Hanna hanyalah kebohongan semata. Ia lebih menyayangi Ashilla dari Hanna. Erick hanya mempermainkan perasaan Hanna. Sampai-sampai Hanna tidak fokus lagi kepada pelajarannya. Lalu, sahabat Hanna yang bernama Nina, Feby, Keisa, dan Velian memotivasi Hanna agar tidak larut terus menerus dalam duka yang ia rasakan. Apa lagi ia Hanna tidak boleh lelah agar penyakit jantungnya tidak kambung lagi. Sahabat-sahabat Hannalah yang selalu memberikan semangat kepada Hanna sehingga Hanna bisa mengembalikan semua nilai-nilainya yang dulunya telah merosot karena ia terlalu larut dalam kesedihan.

Sekarang Hanna pun tak lagi memikirkan kejadian yang telah berlalu, Hanna pun memilih untuk fokus kepada pelajarannya dan aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Walaupun dalam lubuk hatinya, Hanna masih mencintai Erick tapi di sisi lain Hanna sangat membenci Erick karena Erick telah mendustai Hanna.

Setelah semua kejadian tersebut Hanna pun mulai berubah, kini dia lebih baik, pengertian, humoris, tegas, siagap walaupun agak galak dan cerewet. Tapi, teman-teman Hanna tetap senang berteman dengan Hanna karena Hanna selalu membuat mereka tersenyum dan tertawa bebas. Setelah kejadian itu Hanna pun tahu arti cinta yang sesungguhnya. Dan ia ingin kisah perjalanan cintanya semasa seragam putih biru ini akan menjadi pelajarannya di kemudian hari.

THE END

Cerpen Karangan: Gelstry
Facebook: Aprylia Gelstry Sarubang Dan Gelstry

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Tak Sehebat Einstein” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Hari itu, cuaca sangat tidak bersahabat. Sebenarnya memang tak pernah bersahabat dengan tubuh yang sangat lemah dan rentan terhadap berbagai penyakit seperti aku ini. Kenapa aku terlahir begini? Aku selalu berkata demikian di depan cermin besar di dalam ruang kamarku sambil tertawa lalu kemudian menangis. Bila ada yang melihatku sedang melakukan hal itu mungkin mereka akan menganggapku seperti orang gila, bahkan tanpa kata “seperti”.

Aku benci hidup ini. Aku benci dengan apa yang aku miliki. Aku benci ibu yang telah melahirkanku ke dunia lalu langsung menutup mata untuk selamanya tanpa pernah melihat kehadiranku sama sekali. Aku benci ayah yang tak pernah punya waktu untuk sedikit saja memperhatikanku. Aku benci semuanya. Bahkan aku benci Tuhan dan takdir-Nya.

Sudah hampir sebulan aku dan ayah menempati rumah ini. Kami baru saja pindah rumah. Ayah bilang, agar jaraknya dekat dengan kantor tempatnya bekerja, makanya kita pindah ke sini. Apa hubungannya denganku? seharusnya ayah pindah rumah saja sendiri! Bukankah ayah tak pernah mempedulikan aku? Ayah egois! Semalam om Jhon, teman kantor ayah datang berkunjung ke rumah. Tetapi setelah om Jhon bertemu dan menanyakan tentang aku kepada ayah, ayah hanya menjawab “kakak perempuanku baru saja menitipkan anaknya tadi pagi.” Apa maksud ayah berkata seperti itu? Apakah ayah malu untuk mengakui bahwa anaknya itu aneh, jelek, seperti monster, apa ayah malu? Jangankan ayah, aku saja tak pernah merasa bahwa aku memiliki tubuh seperti ini.

Aku duduk berhadapan dengan cermin. Aku memegang sisir berwarna pink kesukaanku dengan keempat jari-jariku yang kurus. Aku memang aneh. Aku hanya memiliki delapan jari tangan sejak lahir. Bahkan kedua kakiku bengkok. Untuk berjalan saja aku harus memakai alat bantu terlebih dahulu. Aku benci hidupku!

Sudah sebulan aku berada di tempat ini tapi aku belum pernah keluar untuk mengenal lingkungan baruku. Setiap pagi aku hanya mendengar ocehan anak kecil yang berlari-larian lewat depan rumahku. Aku belum tertarik untuk melihat dunia luar. Kepercayaan diriku belum terkumpul dengan utuh. Aku belum siap menjadi pusat perhatian orang sekitar. Mereka pasti akan terkejut melihat keadaanku yang seperti ini. Aku tidak sama dengan anak-anak lain. Aku terlahir tanpa jari kelingking dan tanpa kaki yang normal. Bahkan aku saja tak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia normal.

Minggu pagi, seharusnya orang dewasa yang sudah bekerja memiliki hari untuk bersantai di rumah. Tapi tidak dengan ayah. Aku tak tau kemana ayah pergi. Aku hanya bertemu dengannya jika hari sudah malam. Pagi ini sudah kuputuskan untuk melihat dunia di luar sana. Dengan berjingkat-jingkat aku bersusah payah berjalan menuju pintu rumah. Perlahan aku membukanya. Senang sekali rasanya menikmati udara pagi yang masih sejuk seperti ini. Sudah lama kumerindukannya. Mentari menyapaku, ia mengucapkan “hai”. Burung-burung pun saling berlomba-lomba mendekatiku, mereka ingin berkenalan dengan aku yang tak pernah mereka lihat sama sekali. Aku kembali masuk ke dalam dunia khayalku. Dunia dimana aku selalu merasa menjadi anak kecil yang tak mengenal kesedihan. Dunia yang tak pernah mengenalkan aku bagaimana caranya berjuang untuk hidup. Di dunia itu aku bisa berjalan, bahkan berlari sesuka hatiku tanpa repot memasang alat bantu pada kakiku ataupun merasa sakit. Tapi sayang itu hanya khayalan.

Aku maju beberapa langkah meninggalkan teras rumahku. Keadaan jalan sepi. Mana gerangan anak-anak kecil yang selalu tertawa dan bercanda dengan riangnya di depan rumahku? Apakah Tuhan tidak mengizinkan aku untuk melihat mereka pagi ini? Aku ingin seperti mereka, bebas melakukan apa yang aku inginkan. Aku bisa berlari sesuka hatiku, menari-nari, aku bisa menggenggam tangan-tangan mereka. Kapan aku bisa merasakan hal itu? Sudah lima belas menit berlalu, sepertinya Tuhan memang tidak mengizinkanku untuk merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak normal seperti mereka. Aku membalikan badan dan berjalan kembali menuju pintu rumah. Langkahku gontai beriringan dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes tanpa kehendak.

“hei, teman-teman lihat itu!”
“nampaknya kita akan memiliki teman baru.”
“hei, kamu yang berbaju merah disana.”
Aku menghentikan langkahku. Sepertinya mereka memanggilku. Karena tak ada anak kecil lain yang berbaju merah disini selain aku. Aku membalikkan badanku. Namun aku masih menundukkan kepalaku. Aku belum siap mendengarkan komentar mereka tentang tubuhku yang cacat ini. Apa mereka akan berkata bahwa aku ini monster? Anak perempuan yang memanggilku tadi berjalan menghampiriku. Aku semakin menunduk. Aku takut menghadapi semua ini. Bahkan aku lebih takut menghadapi ini daripada menghadapi suntikan-suntikan dokter saat dulu aku check up di rumah sakit.
“wah, rambutmu indah sekali ya. Warnanya cokelat, sama seperti warna rambut boneka barbieku.” Anak itu menyentuh rambutku. Aku terkejut dengan apa yang ia katakan.
“hei, leo lihat kakinya!” dua orang anak laki-laki itu mulai mendekatiku dan memperhatikan kakiku. Aku belum siap dengan komentar mereka tentang kakiku. Ku akui akulah pemilik kaki terburuk di dunia ini. Dan kalian akan berkata apa?
“kau memiliki kaki yang keren! Mirip seperti robot blue milikku. Bagaimana kau bisa memilikinya? Sungguh aku ingin memiliki kaki seperti itu sejak aku mencintai robotku. Darimana kau mendapatkannya?” aku sangat terkejut dengan apa yang ia katakan barusan. Kenapa mereka bisa berkata seperti itu? Mengapa mereka memuji keterbatasanku? Apa yang ada di pikiran anak-anak kecil polos seperti kalian? Apakah aku bisa dibilang lebih hebat dari kalian dengan segala keterbatasan ini?
“kenalkan, namaku David. Umurku 8 tahun. Kelihatannya kau seumuran dengan kami.”
“aku juga, kenalkan namaku Alita. Maukah kau bermain boneka barbie bersamaku?”
“tidak! Lebih baik bermain robot saja denganku. Namaku Leo.”
Mereka semua mengulurkan tangan, ingin berkenalan denganku. Aku membalas jabatan tangan mereka satu persatu walaupun aku masih kurang percaya diri untuk memperlihatkan jari-jemari kurusku yang jumlahnya tak sama dengan mereka. Tapi mereka tak berkata apa-apa lagi. Mereka menampakkan senyum khas kekanak-kanakan mereka. Aku mengangkat kepalaku. Aku membalas senyum mereka.
“namaku Neta.”
“namamu indah. Boleh aku pinjam namamu untuk memberi nama pada boneka barbieku yang baru?” Aku tersenyum sambil mengangguk.
“sekarang anggota kita bertambah satu. Ayo, Neta! Ikut bermain bajak laut bersama kami!” David mengajakku bermain bersama. Aku senang, tapi aku ragu. Apakah aku bisa melakukan apa yang mereka lakukan dengan segala keterbatasanku?
“David, Leo, Alita, aku tak bisa melakukan gerakan sebebas kalian. Aku tak bisa berlari, aku tak bisa menari-nari, aku juga tak memiliki jari-jari yang lengkap seperti kalian. Apakah kalian akan tetap mengajakku bermain?” pertanyaanku mungkin agak sedikit membingungkan. Mereka terdiam. Entah berpikir atau apa. Mungkin setelah ini aku akan segera menuju ke dalam rumah den mengunci rapat-rapat pintu rumah. Aku tau, mereka tak bisa menjawab pertanyaanku. Dan yang harus kulakukan adalah kembali ke rumah.
“tentu. Kau bisa menjadi kapten kapal. Yang kau lakukan hanya mengawasi awak kapalnya saja. Mudah, kan? Aku dan David akan menjadi awak kapal, sedangkan Alita menjadi tuan putri yang harus diculik. Ayo kita ke markas!!” mereka semua menuntunku berjalan menuju tempat dimana mereka biasa melakukan permainan ini. Aku sungguh merasa sangat senang. Sejak hari ini, aku selalu mengisi hari-hariku dengan bermain bersama mereka.

8 tahun telah berlalu. Kami sudah menjadi remaja dengan segala kesibukan masing-masing. Alita sibuk dengan les baletnya. David sibuk dengan olahraga kegemarannya, yaitu basket. Sedangkan Leo, sibuk dengan berbagai rangkaian robot buatannya. Ia memang selalu tertarik dengan robot sejak kecil. Bahkan ia masih mengagumi ‘kaki robot’ku. Leo memang aneh. Dan aku, sibuk mengisi hari-hari sepiku saat mereka semua sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Walaupun begitu, sesibuk apapun, mereka selalu meluangkan waktu mereka untukku.

Siang itu kami sudah membuat janji untuk bertemu di paru-paru kota, tempat kami selalu bermain bajak laut 8 tahun yang lalu. Aku sudah menunggu mereka kurang lebih setengah jam. Tapi belum ada satupun dari mereka yang menampakkan batang hidungnya. Mungkin mereka masih sibuk. Aku harus bisa mengerti keadaan sekarang. Aku tak boleh egois. Mereka memiliki banyak teman lain selain aku di luar sana. Mereka juga harus membagi waktu mereka dengan teman lain. Bukan untukku saja.

Lelaki bertubuh kekar itu berlari tergesa-gesa. Nafasnya penuh sesak, tapi tampaknya ia tak perduli. Jaraknya semakin mendekat. David, tubuh mungil 8 tahun lalu sudah berganti menjadi tubuh kekar penuh otot. David yang dulu selalu mengajakku bermain bajak laut disini, di tempat aku berada. Nafasnya memburu, tak beraturan. Ia berhenti dan mengatur nafasnya.
“apa hukuman yang layak aku dapatkan, setelah membiarkanmu menunggu lama sendirian disini?” aku tertawa mendengar kata-katanya barusan. Untuk apa aku memberi hukuman padanya? Ia saja tak pernah menghukum segala keterbatasanku.
“kenapa tertawa?” David tak mengerti. Aku menepuk-nepuk bangku yang kududuki. Mengisyaratkan agar ia duduk disini, di sampingku. Ia tersenyum dan segera menempatkan posisi.

“aku rindu tempat ini.” Aku memulai pembicaraan
“apa itu artinya aku harus mengajakmu kembali bermain bajak laut untuk menebus kesalahanku tadi?” David membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Ia semakin tak mengerti. Dasar bodoh! Mana mungkin kita akan bermain bajak laut lagi seperti apa yang dulu sering kita lakukan. Kita sudah remaja. Dan aku yakin, kau pasti mempunyai rasa malu untuk melakukan hal itu. Tak lama kemudian, Alita dan Leo datang.
“aku harap kau tak mengutuk kami menjadi kodok setelah kami terlambat beberapa menit.”
Leo memecah keheningan siang ini. Ia memang selalu membuat kami tertawa di setiap kata-katanya. Kami seperti tersihir untuk tertawa oleh semua leluconnya.
“bagaimana dengan kegiatan kalian? Menyenangkan, bukan?” aku menghentikan tawa mereka. Mereka tersenyum.
“semua yang kami lakukan memang menyenangkan. Tapi akan lebih menyenangkan lagi apabila kita sedang bersama seperti sekarang ini.” Alita merangkul bahuku.
“iya, betul! Semua kegiatan yang aku lakukan tak pernah semenyenangkan seperti saat kita bersama seperti sekarang ini.” David menyetujui. Aku hanya tersenyum. Aku yakin, mereka hanya membohongi diri mereka sendiri. Aku tau sebenarnya mereka sangat menikmati segala kesibukan mereka. Aku merasa, akulah batu penghalang mereka. Seharusnya mereka bersenang-senang saja dengan teman-teman yang pasti lebih menyenangkan dari aku, tentu tidak dengan segala keterbatasan seperti yang kumiliki. Sekarang aku tau kenapa ayah selalu berkata kalau aku ini bukan anaknya, karena ia merasa akulah penghalang segala kesibukannya. Dan sekarang aku baru menyadarinya ketika teman-temanku juga memiliki kesibukan lain selain bermain denganku. Aku memang egois. Aku selalu menginginkan mereka ada bersamaku tanpa kembali berpikir bahwa mereka punya kesibukan lain. Seharusnya mereka menghukum aku yang egois ini. Seperti ditampar dengan segala kenyataan yang ada, senyumku berubah menjadi tetes air mata. Debu-debu keputus asaan kembali menghampiri batin ini. Aku harus kembali menerima kenyataan bahwa aku tak bisa bermain bersama mereka lagi. Aku harus mengalah.
“apakah kalian tidak malu memiliki teman cacat sepertiku ini?”
“siapa yang berani berkata kalau kau cacat, Neta? Kau tidak cacat! Buktinya, aku selalu suka kepada kaki robotmu sejak kecil.” Leo mencak-mencak.
“kau terlihat buruk dengan air mata yang mengalir di pipimu!” Alita mengusap pipiku.
“di dunia ini tak ada yang cacat, Neta. Yang cacat itu apabila kami meninggalkanmu sendiri menikmati kesendirian. Kau itu sahabat kami. Kami tak akan membiarkanmu sendirian, kami tak akan membiarkanmu terluka atau mengalami hal buruk apapun. Tidak akan!”
Dengan serempak, Alita, Leo, dan David memelukku erat. Aku sangat bahagia memiliki sahabat seperti kalian. Yang mau mengerti dan menutupi segala keterbatasan yang aku miliki. Aku sangat menyayangi kalian. Sebenarnya Tuhan tidak jahat, hanya saja aku yang selalu berputus asa dengan apa yang telah ditakdirkan-Nya. Terimakasih tuhan, Engkau telah memberikanku orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku. Mereka memang bukan Albert Einstein, yang dengan hebatannya menciptakan berbagai macam hukum Science. Tapi menurutku, mereka lebih hebat daripada Einstein. Mereka bisa menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang amat berarti dalam hidupku. Aku adalah orang paling beruntung di dunia ini karena telah memiliki sahabat terhebat seperti kalian.

Cerpen Karangan: Annisa Rahmadiah
Facebook: Annisamahdaleni[-at-]yahoo.co.id

[/su_spoiler]

[su_spoiler title=”Kisah Cinta Si Cowok Jutek dan Cewek Judes” style=”fancy” icon=”chevron-circle”]

Di pagi hari yang cerah, seorang gadis bernama Sherena Aquila berangkat menuju sekolah barunya di Jakarta yaitu SMA Queen Marry. Sekolah itu termasuk sekolah yang ternama di Jakarta. Sherena beruntung masuk ke sekolah itu, Sherena termasuk siswi yang pintar, baik dan cantik tapi sedikit jutek.

Tet, tet, tet…
Bel tanda masuk pun berbunyi, Sherena dan Ibu Naomi langsung memasuki kelas. Ibu Naomi adalah salah satu guru di SMA itu.
“Anak-anak perhatikan ibu sebentar, kita kedatangan teman baru.” Baiklah sekarang silahkan kamu perkenalkan diri pada teman-teman baru kamu.
“Baiklah teman-teman, perkenalkan nama saya Sherena Aquila. Saya siswi pindahan dari SMA 1 Surabaya. Sekian perkenalan dari saya.”
“Sherena, sekarang silahkan kamu duduk di samping Albert.” Perintah bu Naomi.
“Ya, bu.” jawab Sherena.

Albert adalah siswa yang pintar dan dia juga sedikit jutek, selain itu Albert adalah cowok paling populer di SMA Queen Marry.
Setelah berkenalan Sherena pun langsung menuju ke tempat duduknya, dan Albert pun langsung berceloteh.
“Kenapa lo harus duduk di samping gue sih!” ketus Albert.
“Kalau mau protes, sama bu Naomi aja, jangan sama gue.” jawab Sherena.
Baru hari pertama sekolah Sherena udah dibikin jengkel sama Albert.
“Kenapa ya gue harus ketemu sama cowok kayak lo, amit-amit deh gue punya cowok yang super jutek kayak lo.” gerutu Sherena dalam hatinya.

Bel istirahat pun berbunyi.
“Hai, Sherena.” sapa Garnetta dan Azzalia.
Garnetta dan Azzalia juga termasuk siswi yang pintar dan ramah.
“Eh , hai juga.” jawab Sherena.
“Oh iya, kenalin nama gue Garnetta dan ini teman gue Azzalia.” sambil mengulurkan tangannya pada Sherena.
“Iya, gue Sherena. Panggil aja rena ya.” jawab Sherena.
“Kita ke kantin yuk re.” ajak Garnetta dan Azzalia pada Sherena.

Mereka bertiga pun menuju kantin. Setelah memesan makanan dan mereka langsung mencari tempat duduk untuk memakan makanan yang mereka beli. Akhirnya mereka pun dapat tempat dan kebetulan tempat mereka makan tepat di belakang meja dimana Albert dan teman-temannya makan.
“Re, re, re!” bentak Garnetta dan Azzalia yang menyadarkan Sherena dari lamunannya.
“Re, lo liat apaan sih? Sampai-sampai lo ngelamun kayak gitu.” tanya Azzalia yang penasaran.
“Ah, gue nggak ngeliat apa-apa kok!” jawab Sherena dengan gugup.
“Atau jangan-jangan lo lagi ngeliatin Albert ya? Cowok yang paling keren di kelas kita itu.” tanya Garnetta dan Azzalia yang berusaha ngeledek Sherena.
“Ah, lo berdua apa-apaan sih! Mana mungkin gue ngeliatin cowok super jutek kayak dia. Gue mending ke kelas aja, nafsu makan gue jadi hilang.” jawab Sherena dengan kesal.

Jam sudah menunjukan pukul 13.00 WIB, bel pulang pun berbunyi.
“Garnetta, Azzalia, gue pulang dulu ya, soalnya gue udah di jemput tuh. Sampai ketemu besok ya.”
“Oke, lo hati-hati di jalan ya.” jawab Azzalia.
Sesampai nya di rumah, Sherena langsung berbaring di atas tempat tidurnya dan tiba-tiba terlintas di benaknya bayangan cowok yang dianggap Sherena super jutek, yaitu Albert.
“Albert itu emang keren sih, tapi itu cowok nyebelin banget. Baru pertama masuk aja udah bikin masalah sama gue. Aduh sialan! Kenapa gue jadi mikirin si Albert sih!” gerutu Sherena sambil menutup wajahnya dengan bantal.

Kring, kring, kring…
Jam weker Sherena berbunyi dan Sherena langsung terbangun dan melihat jamnya.
“Aduh! Udah jam berapa nih, bisa telat deh gue.” Sherena segera meloncat dari tempat tidurnya.
Selesai mandi dan memakai pakaiannya, dia langsung berpamitan kepada orangtuanya dengan tergesa-gesa.
“Mama, papa, Rena berangkat sekolah dulu ya.” sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
“Kamu nggak makan dulu? Nanti kamu sakit re.” teriak mama nya.
“Nggak ma, aku udah telat ma.” jawab Sherena.

Sampai di sekolah Sherena berlari menuju kelas nya dan gubrak… buku-buku yng dibawanya pun terjatuh. Ternyata yang menabraknya adalah Albert.
“Eh, lo punya mata nggak sih! Gue lagi jalan malah lo tabrak.” celoteh Albert dengan wajah sinisnya.
Mendengar ucapan Albert tadi, Sherena merasa sangat jengkel padanya.
“Eh, mulut lo itu bisa lebih sopan lagi nggak sama cewek! Udah tau gue lagi buru-buru, eh lo nya malah berdiri di depan gue.” jawab Sherena dengan ketus.
“Lo itu cewek paling aneh yang pernah gue kenal! Dari pada gue berdebat lama-lama sama lo mending gue masuk kelas!” Albert langsung masuk kelas dengan wajah kesalnya.
Setelah Albert masuk kelas, Sherena juga memasuki kelasnya.

“Re, lo dari mana aja sih? Jam segini baru datang.” tanya kedua sahabat nya.
“Iya, gue telat bangun. Terus tadi gue ditabrak sama cowok di samping gue yang ngakunya keren tapi super jutek.” jawab Sherena dengan nada yang masih kesal.
“Oh, Albert maksud lo re?” tanya Azzalia.
“Ya iyalah, siapa lagi cowok di kelas ini yang super jutek kalau bukan si Albert.” jawab Sherena sambil melihat Albert.
“Eh, jelas-jelas lo yang nabrak gue, bukan gue yang nabrak lo. Kenapa jadi lo yang marah-marah sama gue. Seharusnya gue yang marah-marah sama lo! Mimpi apa gue semalam, bisa ketemu cewek super aneh kayak lo!” celoteh Albert yang semakin jengkel pada Sherena.
“Sherena, Albert, Azzalia! Kalian ada masalah apa! Kalau kalian tidak bisa mengikuti pelajaran saya dengan baik, silahkan keluar!” bentak bu Gina.

Bu Gina adalah guru kiler yang ada di SMA Queen Marry. Mereka bertiga pun terdiam gara-gara dibentak bu Gina.
“Gara-gara lo kan, gue jadi ikut-ikutan dimarahi sama bu Gina.” celoteh Albert sambil berbisik pada Sherena.

Bel istirahat pun berbunyi, Albert dan teman-temannya langsung menuju kantin.
“Ngomong-ngomong, Sherena itu cantik juga ya walaupun agak cerewet.”
“Lo semua ngomong apaan sih! Cewek nyebelin kayak Sherena lo bilang cantik! Salah besar lo semua.” jawab Albert dengan ketus.

Albert pun sempat memikirkan perkataan teman-temannya tadi.
“Kalau di pikir-pikir, Sherena itu cantik juga tapi sifat nyebelinnya itu bikin gue kesal terus sama itu cewek. Aduh! Sialan, kenapa gue jadi ikut-ikutan mikirin Sherena sih!”
“Al, lo kok jadi ngelamun sih! Keburu dilalerin tu makanan lo. Pasti lo lagi ngelamunin Sherena ya? Hahaha.” ledek teman-teman Albert.
“Nggak mungkin lah gue mikirin cewek super aneh kayak Sherena. Nggak penting banget buat dipikirin.” jawab Albert.

Bel pulang pun berbunyi.
“Re, gue sama Azzalia mau ke toko buku nih, lo mau ikut nggak re?” ajak Garnetta.
“Nggak ah, gue lagi kurang enak badan nih. Nggak apa-apa kan gue nggak ikut sama kalian?” jawab Sherena dengan wajah pucatnya.
“Ya udah, gue cariin taksi ya untuk nganter lo pulang.” Azzalia langsung mencarikan taksi.
“Eh, nggak usah. Gue lagi nunggu papa nih. Lo berdua duluan aja, nggak apa-apa kok.” jawab Sherena.
“Beneran lo nggak apa-apa re kalau gue tinggal sendirian?” tanya Garnetta dan Azzalia yang khawatir pada Sherena.
“Iya, gue nggak apa-apa kok.” jawab Sherena.

Setelah Azzalia dan Sherena pergi, Sherena pun menunggu papanya menjemput. karena begitu lama menunggu, akhirnya Sherena memutuskan untuk berjalan sambil menunggu jemputannya. Dan tiba-tiba, Sherena pun pingsan di jalan karena keadaan tubuh nya yang begitu lemah.
“Loh, itu bukannya Sherena ya?”
Albert pun langsung keluar dari mobilnya dan dia sangat terkejut karena melihat Sherena yang pingsan di tengah jalan. Albert segera menggendong Sherena masuk dalam mobilnya dan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya Albert di rumah sakit, Sherena langsung ditangani oleh dokter.

“Maaf dok, bagaimana keadaan teman saya? Apakah dia baik-baik saja dok?” tanya Albert yang begitu khawatir.
“Tenang, teman kamu tidak kenapa-kenapa. Dia Cuma kelelahan saja. Cukup istirahat di rumah saja keadaan dia akan segera membaik.” jawab dokter.
“Syukurlah kalau teman saya tidak kenapa-kenapa dok. Sekarang apa boleh saya membesuk dia ke dalam dok?” tanya Albert.
“Oh, silahkan dek.” jawab dokter dengan singkat.

Karena kekhawatirannya pada Sherena, Albert langsung menemuinya.
“Re, lo nggak apa-apa kan?” tanya Albert yang begitu khawatir.
“Eh, kok gue bisa ada disini bareng lo?” tanya Sherena dengan keadaan bingung.

Albert menceritakan semua kejadian tadi pada Sherena. Sherena pun tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih kepada Albert karena sudah menolongnya.
“Albert, makasih ya, lo gue udah nganterin gue ke rumah sakit.”
“Ya, sama-sama re.” jawab Albert dengan senyumannya.

“Eh udah sehat aja lo re?” tanya Azzalia dan Garnetta.
“Udah, gue udah sehat kok.” jawab Sherena.
“Maafin gue berdua ya, kemaren ninggalin lo sendirian aja.”
“Iya nggak apa-apa kok, kenapa kalian malah minta maaf.” jawab Sherena.
Setelah mereka ngobrol-ngobrol, Albert pun datang menghampiri Sherena.
“Hai re, gimana keadaan lo? Lo udah sehat?” tanya Albert.
“Iya, gue udah baikan kok.” jawab Sherena.
“Cie, cie, ngomong-ngomong lo kemaren dianterin ya re sama Albert ke rumah sakit? Albert perhatian banget ya sama lo re, jangan-jangan dia suka sama lo re. Hahaha.” tanya Garnetta sedikit meledek Sherena.
“Terus kalau gue suka sama Sherena ada masalah untuk lo?” jawab Albert dengan ketus sambil merangkul bahu Sherena.
Sherena kaget karena Albert merangkulnya, jantung Sherena pun terasa mau copot. Wajah Sherena memerah seketika.
“Kenapa lo tiba-tiba jadi berubah gini sama gue?” tanya Sherena sedikit bingung.
Albert tidak menjawab pertanyaan Sherena tadi karena bu Naomi sudah masuk kelas.

Pelajaran pun dimulai, semuanya begitu fokus mengikuti pelajaran bu Naomi.
Dan tiba-tiba Albert mendekati Sherena dan berbisik pada Sherena.
“Re, maafin gue ya kalau selama ini gue jutek atau jahat sama lo.” Albert menatap Sherena dengan serius.
“Lo apa-apaan sih, gue lagi serius belajar nih. Ntar kita berdua malah dimarahin.” jawab Sherena yang masih memperhatikan bu Naomi.
“Ya, lo mau nggak maafin gue re?” Albert mendesak Sherena.
“Iya, iya, Albert. Gue maafin lo.” jawab Sherena dengan ketus.

Bel istirahat berbunyi.
“Re, ntar pulang sekolahnya bareng ya.” teriak Albert yang keluar dari kelas.
“Re, lo jadian ya sama Albert? Kok Albert bisa berubah baik gitu sama lo re?” tanya sahabatnya yang semakin penasaran.
“Gue nggak jadian kok sama Albert. Gue juga nggak tau kenapa Albert bisa berubah jadi baik gitu sama gue. Tapi sebenarnya dia orangnya baik juga sih.” jawab Sherena.
“Lo suka ya re sama Albert?” tanya Azzalia.
“Hmmm, gimana ya? Gue juga nggak tau ah, mending kita ke kantin aja yuk. Gue pengen makan nih.” ajak Sherena.

Waktu pulang, Azzalia, Garnetta dan Sherena mampir dulu ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Dan tiba-tiba hp Sherena berdering.
“Eh tunggu bentar ya, hp gue bunyi nih. Gue angkat telfon dulu ya.” Sherena keluar untuk mengangkat telfon nya.
“Hallo.” jawab Sherena.
“Re, lo dimana? Ini gue, Albert. Kita pulang bareng ya, gue tunggu lo diparkiran.”
Tit, tit, tit….
Belum sempat menjawab, telfon sudah ditutup Albert.
“Re, siapa yang nelfon lo tadi?” tanya Garnetta.
“Itu, si Albert ngajakin gue pulang bareng.” jawab Sherena.

Mereka bertiga pun langsung menuju parkiran.
“Re, gue pulang duluan ya bareng Azzalia.” Garnetta dan Azzalia pun pergi.
“Iya, lo hati-hati ya berdua.” jawab Sherena sambil melambaikan tangannya pada Garnetta dan Azzalia.
“Yuk re, kita pulang.” ajak Albert yang kelihatan gugup.
“Yuk.” Jawab Sherena dengan singkat.

Di perjalanan Albert kelihatan salah tingkah, dan tiba-tiba Albert memegang tangan Sherena. Sherena pun merasa aneh melihat tingkah laku Albert.
“Lo kenapa tiba-tiba megang tangan gue?” tanya Sherena.
“Gue mau ngomong, sebenarnya gue suka sama lo re. Gue sayang sama lo re, lo mau nggak jadi pacar gue?” tanya Albert yang terlihat gugup.
Sherena pun hanya bisa terdiam karena dia sangat kaget mendengar kata-kata Albert tadi.
“Gimana re? Lo kok malah ngelamun.” tanya Albert sambil menyadarkan Sherena dari lamunannya.
“Eh, lo serius sama perkataan lo tadi? Lo nggak lagi ngerjain gue kan?” tanya Sherena yang masih belum percaya.
“Iya, gue beneran serius re. Awalnya sih gue benci lihat lo re tapi lama-kelamaan rasa sayang gue ke lo tu timbul re. Gue jatuh cinta sama lo re.” jawab Albert.
Sherena pun masih terdiam. Dan Albert langsung memegang tangan rena kembali.
“Gimana re? Jawab dong.” tanya Albert.
“Iya deh, gue mau jadi pacar lo Albert. Tapi lo harus janji, jangan pernah permainin gue. Oke!” jawab Sherena.
“Iya re, gue janji nggak bakalan nyakitin lo re.” jawab Albert.
Akhirnya Albert dan Sherena pun jadian. Mereka saling mengisi satu sama lain, dan menerima kekurangan satu sama lainnya.

Cerpen Karangan: Rafika Fajriliani
Facebook: Fika Fajriliani

[/su_spoiler]

Demikianlah ulasan singkat mengenai cerpen yang disertai sejumlah contoh cerpen yang dikutip dari cerpenmu dalam artikel Kumpulan Cerita Pendek ini, semoga dapat meberikan manfaat kepada pembaca.

Terima Kasih…!!! 🙂