Tentang Pendidikan Vokasi dan Kejuruan

Posted on

Pendidikan Vokasi dan Kejuruan Kehidupan tanpa pendidikan akan terasa lumpuh, pendidikan merupakan kekuatan yang dinamis. Pendidikan akan mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosional, serta etika. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan keterampilan saja, namun diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan, dan kemampuan individu sehingga pola hidup probadi dan sosial akan memuaskan. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting terhadap diri individu serta kebudayaan suatu masyarakat.

Perkembangan era globalisasi mengarahkan Negara menuju kedalam Negara industri yang sangat membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, tanpa sumber daya manusia yang berkualitas, suatu bangsa pasti akan tertinggal dari bangsa lain dalam membangun kemajuan bangsa. Oleh sebab itu, dibutuhkan lembaga yang mampu mempersiapakn sumber daya manusia yang mampu dan siap menghadapi dunia industri. Salah satu lembaga yang memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan itu adalah lembaga Pendidikan Vokasi dan Kejuruan.

Tujuan pendidikan di Indonesia yang bersifat nasional sudah lengkap dan bagus, seperti yang tertera dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989dalam Zuchdi. (2009: 97) yaitu Pendidikan Nasioanl bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yag beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. Memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan yang efektif memiliki dua tujuan utama, yaitu mengembangkan keterampilan intrapribadi dan keterampilan antarpribadi. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan efektif berpengaruh positif secara signifikan terhadap perkembangan kepribadian. Pengaruh positif tersebut antara lain berwujud dapat menghargai orang lain, sabar, dan mandiri (Elardo dan Caldewll dalam Zuchdi, 2009:68)

Pendidikan menengah terbagi atas dua yaitu Pendidikan Menengah Umum dan Pendidikan Menengah Kejuruan. Pendidikan menengah umum tidak mempersipkan peserta didik untuk bekerja, akan tetapi mereka dipersiapkan dengan sejumlah wawasan pengetahuan sebagai bekal untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pendidikan menengah umum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan peserta didik berupa sikap, pengetahuan, keterampilan secara umum, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Hal tersebut berbeda dengan tujuan Pendidikan Menengan Kejuruan.

Pendidikan Vokasi dan Kejuruan
Pendidikan Vokasi dan Kejuruan

Pendidikan Vokasi dan Kejuruan merupakan bagian dari sistem pendidikan pada umumnya, tetapi tentu memiliki kekhasan tersendiri. Pendidikan menengah kejuruan adalah bagian dari pendidikan yang mencetak individu untuk dapat segera bekerja, hal ini senada dengan isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 pasal 15 yaitu “Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu”. Hal ini sejalan dengan pendapat Evan dalam Iqbal (2012) bahwa “Pendidikan Kejuruan adalah bagian dari sistem yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya”. Pendidikan teknologi dan kejuruan selain mempersiapkan suatu bidang keahlian yang bersifat jabatan, juga perlu didorong untuk pengayaan pengetahuan dan keterampilan umum yang dipandang dapat dijadikan latar belakang mengadaptasi berbagai kemungkinan di masyarakat. (Agunk. 2012)

Tujuan pendidikan vokasi dan kejuruan dapat dikemukan dalam Kurikulum SMK tahun 2004 bahwa SMK merupakan bentuk satuan pendidikan kejuruan yang mempunyai tujuan khusus; (a) Menyiapkan siswa menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi dan program keahlian yang dipilih. (b) Menyiapkan siswa agar mampu memilih karier, ulet dan gigih dalam berkompetisi, beradaptasi dilingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang kahlian yang diminatinya (c) Membekali siswa dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agar mampu mengembangkan diri dikemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (d) Membekali siswa dengan kompetensi-kompetensi tertentu yang sesuai dengan program keahlian yang dipilih.

Pendidikan vokasi dan kejuruan memiliki cakupan yang luas dalam disiplin ilmunya, pendidikan vokasi dan kejuruan mampu mengembangakan kempuan vokasi dari setiap siswanya sehingga dapat bersaing dalam dunia kerja dan dunia industri. Pendidikan kejuruan juga sangat berguna bagi masyarakat karena potensi-potensi daerah bahkan nasional dapat dimajukan dengan menjalin kerjasama dengan pendidikan kejuruan. Oleh sebab itu sangat penting untuk menyelenggarakan pendidikan teknologi dan kejuruan sesuai dengan karakteristik daerah dan kebutuhan dunia kerja. Menurut Ali (2009: 309), “hasil pendidikan kejuruan juga seharusnya memiliki peluang memperoleh tingkat balikan lebih cepat dibandingkan dengan pendidikan umum”.

Penyelenggaraan pendidikan berorientasi dunia kerja di Indonesia, terdapat dua istilah yang digunakan, yaitu; pendidikan vokasi dan kejuruan. “Pendidikan  kejuruan merupakan pendidikan menengah yang memepersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu, adapun pendidikan vokasi merupakan pendidikan  tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dngan keahlian terapan tertentu berupa program diploma dan setingkat sarjana terapan, magister terapan serta doktor terapan” (Kusnawa. 2013: 189).

Pendidikan menengah kejuruan adalah bagian dari pendidikan yang mencetak individu untuk dapat segera bekerja, hal ini senada dengan isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 pasal 15 yaitu “Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu”. Menurut Evan dikutip Iqbal (2012) bahwa “Pendidikan Kejuruan adalah bagian dari sistem yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya”.Menurut Good dikutip Dasmanjohan (2010) bahwa “Pendidikan teknologi dan kejuruan adalah suatu program yang berada di bawah organisasi pendidikan tinggi yang diorganisasikan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja”. Sedangkan menurut Walter dalam Kusnawa (2013: 157) bahwa “Pendidikan vokasi (kejuruan) merupakan program pendidikan yang mempersiapkan orang-orang untuk memasuki dunia kerja, baik yang bersifat formal maupun non formal”.Oleh karena itu, pendidikan kejuruan pada dasarnya mengarahkan peserta didik pada bidang tertentu sebagai bekal mencari kehidupan atau nafkah. Selain itu, pendidikan kejuruan dapat menjadi penghasil sumber daya manusia yang efektif untuk pembangunan bangsa menuju Negara industri.

Penyelenggaraan pendidikan vokasi dan kejuruan tidak sama dengan pendidikan umum, karena pendidikan vokasi dan kejuruan memiliki ciri khas tersendiri yaitu berorientasi pada dunia kerja. Sehingga terdapat prinsip-prinsip tersendiri dalam penyelenggaraannya.

Menurut teori Charles Prosser dalam buku “Vocational Education in a Democracy, (Prosser & Quigley, 1950)” dalam Adriyanto (2011) bahwa prinsip-prinsip pendidikan vokasi dan kejuruan ada 16 yaitu;

  1. Pendidikan kejuruan akan efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih merupakan replika lingkungan dimana nanti ia akan bekerja.
  2. Pendidikan kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan dimana tugas-tugas latihan dilakukan dengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang ditetapkan di tempat kerja.
  3. Pendidikan kejuruan akan efektif jika melatih seseorang dalam kebiasaan berpikir dan bekerja seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu sendiri.
  4. Pendidikan kejuruan akan efektif jika dapat memampukan setiap individu memodali minatnya, pengetahuannya dan keterampilannya pada tingkat yang paling tinggi.
  5. Pendidikan kejuruan yang efektif untuk setiap profesi, jabatan atau pekerjaan hanya dapat diberikan kepada seseorang yang memerlukannya, yang menginginkannya dan yang mendapat untung darinya.
  6. Pendidikan kejuruan akan efektif jika pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berpikir yang benar diulang-ulang sehingga sesuai seperti yang diperlukan dalam pekerjaan nantinya.
  7. Pendidikan kejuruan akan efektif jika gurunya telah mempunyai pengalaman yang sukses dalam penerapan keterampilan dan pengetahuan pada operasi dan proses kerja yang akan dilakukan.
  8. Pada setiap jabatan ada kemampuan minimum yang harus dipunyai oleh seseorang agar dia tetap dapat bekerja pada jabatan tersebut.
  9. Pendidikan kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar.
  10. Proses pembinaan kebiasaan yang efektif pada siswa akan tercapai jika pelatihan diberikan pada pekerjaan yang nyata (pengalaman sarat nilai).
  11. Sumber yang dapat dipercaya untuk mengetahui isi pelatihan pada suatu okupasi tertentu adalah dari pengalaman para ahli okupasi tersebut.
  12. Setiap pekerjaan mempunyai ciri-ciri isi (body of content) yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain.
  13. Pendidikan kejuruan akan merupakan layanan sosial yang efisien jika sesuai dengan kebutuhan seseorang yang memang memerlukan dan memang paling efektif jika dilakukan lewat pengajaran kejuruan.
  14. Pendidikan kejuruan akan efisien jika metode pengajaran yang digunakan dan hubungan pribadi dengan peserta didik mempertimbangkan sifat-sifat peserta didik tersebut.
  15. Administrasi pendidikan kejuruan akan efisien jika luwes.
  16. Pendidikan kejuruan memerlukan biaya tertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan kejuruan tidak boleh dipaksakan beroperasi.

Penyelenggaraan pendidikan vokasi dan kejuruan tak luput dari masalah-masalah yang mendasar, permasalahan tersebut dikemukakan oleh Yusufhadi Miarso dikutip Saharuddin (2011) yang menyatakan bahwa “program kejuruan belum dikembangkan sesuai dengan kondisi lingkungan, karakteristik peserta didik, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Masih banyak penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang masih berdasarkan asumsi-asumsi yang tidak melibatkan dunia industri untuk menyusun proses penyelenggaraannya, seperti dalam penyusunan kurikulum, kebanyakan kurikulum di SMK diadosi dari kurikulum SMK yang telah maju tanpa memeprhatikan potensi dan karakteristik daerah sehingga sangat berpotensi menghasilkan lulusan yang tdk relevan dengan kebutuhan masyarakat  dan dunia kerja di daerah tersebut. Kerjasama dengan DUDI sangat penting, seperti yang dikemukakan oleh Rizali, dkk (2009: 204) bahwa “pembelajaran di SMK bukansemata-mata menjadi tanggung jawab sekolah melainkan juga ikut dipikul oleh industri pasangan tempat siswa melakukan praktek kerja”. Namun tidak sedikit SMK yang tidak memiliki mitra kerjasama dengan dunia industri.

Para pakar pendidikan vokasi dan kejuruan baik secara konsep, program maupun secara operational terus berupaya dalam meningkatkan kompetensi alumni agar keterserapan pada dunia industri menjadi semakin tinggi. Akan tetapi dari sisi pelaksanaan tidaklah mudah.Supply Driven, konsep konvensional dimana totalitas pendidikan kejuruan dari kurikulum sampai pada uji komptensi hanya dilakukan satu pihak, telah disadari bahwa saat ini sudah tidak cocok lagi. Hal ini dikarenakan para penyusun kurikulum kemungkinan besar adalah orang-orang yang kurang paham tentang dunia industri. Olehnya itu,diperkenalkanlah konsep Demand-Driven, dimana kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan pengguna. Konsep ini mengharuskan dunia pendidikan vokasi dan kejuruan menggali informasipada pasar kerja tentang kompetensi yang mereka butuhkan. Atas dasar inilah kurikulum beserta perangkatnya disusun karena yang akan menggunakan tenaga lulusan SMK adalah Dunia Usaha dan Dunia Kerja.

Sejumlah sekolah telah menjalin kerja sama yang intensif dengan dunia industri, bahkan melibatkan industri dalam penyusunan kurikulumnya, telah disadari bahwa dengan melibatkan industri, arah penyelenggaraan pendidikan kejuruan tentu akan lebih jelas dan mampu mengurangi bahkan menghilangkan gap antara lulusan sekolah kejuruan dengan kebutuhan dunia kerja. Manfaat kerja sama industri tidak hanya sampai disitu, Menurut Pardjono dalam dalam Delly (2013) bahwa  peran DUDI bagi pendidikan vokasi dan kejuruan diantaranya:

  1. Sebagai Tempat Praktek Peserta Didik
    Banyak SMK yang tidak memiliki peralatan dan mesin untuk praktek dalam memenuhi standar kompetensi atau tujuan yang ditentukan, menggunakan industri sebagai tempat praktek (outsourcing). Permasalahannya adalah pada saat ini jumlah industri tidak sebanding dengan jumlah peserta didik SMK yang memerlukannya sebagai tempat praktek ini. Sementara itu, masing-masing industri memiliki kapasitas yang terbatas untuk bisa menampung peserta didik SMK untuk praktek di industri tersebut. Kebijakan pemerintah yang mendorong tumbuhnya jumlah SMK hingga menjadi 70% SMK dan   30 % SMA semakin menambah masalah yang terkait dengan hal ini. Karena anggaran untuk penyediaan alat dan bahan praktek masih kurang, maka akan semakin  banyak SMK baru yang tidak mampu memenuhi kebutuhan alat dan bahan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan standar kompetensi dunia kerja.
  1. Industri Sebagai Tempat Magang Kerja
    Sistem Magang (apprenticeship) merupakan sistem pendidikan kejuruan yang paling tua dalam sejarah pendidikan vokasi. Sistem magang merupakan sistem yang cukup efektif untuk mendidik dan menyiapkan seseorang untuk memperdalam dan menguasai keterampilan yang lebih rumit yang tidak mungkin atau tidak pernah dilakukan melalui pendidikan masal di sekolah. Dalam sistem magang seorang yang belum ahli (novices) belajar dengan orang yang telah ahli (expert) dalam bidang kejuruan tertentu. Sistem magang juga dapat membantu peserta didik SMK memahami budaya kerja, sikap profesional yang diperlukan, budaya mutu, dan pelayanan konsumen
  1. Industri Sebagai Tempat Belajar Manajemen Industri dan Wawasan Dunia Kerja
    Selama ini, industri dimanfaatkan oleh sekolah sebagai tempat pembelajaran tentang manajemen dan organisasi produksi. Peserta didik SMK kadang-kadang melakukan pengamatan cara kerja mesin dan produk yang dihasilkan dengan secara tidak langsung belajar tentang mutu dan efisiensi produk. Selain itu peserta didik juga belajar tentang manajemen dan organisasi industri untuk belajar tentang dunia usaha dan cara pengelolaan usaha, sehingga mereka memiliki wawasan dan pengetahuan tentang dunia usaha. Melalui belajar manajemen dan organisasi ini juga bisa menambah wawasan peserta didik pada dunia wirausaha.

Sebagai pendidikan vokasi dan kejuruan, orientasi pendidikannya harus diarahakan pada kebutuhan dunia kerja atau dunia industri dengan pola pendekatan kemitraan yang berkesinambungan. Bukan menggunakan pola asumsi. Dengan menjalin kerjasama antara sekolah dengan DUDI, maka sebahagian besar teori Prosser dapat diimplementasikan dengan baik. Implementasi paling nyata dari sejumlah teori Prosser tersebut di atas adalah dilaksanakannya Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan Praktek Kerja Industri (Prakerin).

Pembaharuan model penyelenggaraan pendidikan di SMK dimulai sejak dilaksanakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) tahun 1994, dan dilengkapi dengan sejumlah perangkat pelaksanaannya. Dalam perkembangan selanjutnnya, pelaksanaan PSG lebih dimantapkan lagi dengan menggunakan acuan yang lebih mendasar yaitu yang tertulis dalam buku “Keterampilan Menjelang 2020 untuk Era Global” yang disusun oleh Satuan Tugas Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian, penyelenggaraan PSG dibakukan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor 323/U/1997 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda pada Sekolah Menengah Kejuruan tanggal 31 Desember 1997, yang memuat komponen-komponen yang diperlukan dalam penyelenggaraan PSG. Inti dari PSG ini adalah upaya untuk mendekatkan pendidikan kejuruan ke dunia usaha/industri.

Pada hakekatnya PSG merupakan suatu strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir serta fungsi pelaku pendidikan di tingkat SMK, masyarakat dan dunia usaha/industri dalam menyikapi perubahan dinamika tersebut.

Tujuan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) Merujuk kepada Kepmendikbud RI Nomor 323/U/1997 tentang Penyelenggaraan PSG pada SMK (pasal 2) dalam Jodenmot (2013) bahwa tujuan PSG adalah:

  1. Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan kejuruan melalui peranserta IP.
  2. Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
  3. Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang menjadi bekal dasar pengembangan dirinya secara berkelanjutan.
  4. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
  5. Meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan menengah kejuruan melalui pendayagunaan sumberdaya pendidikan yang ada di dunia kerja.

PSG merupakan program pendidikan yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi bersama secara terpadu antara sekolah kejuruan dengan institusi pasangannya, sehingga fungsi operasional dilapangan dilaksanakan bersama antara kepala sekolah, guru, instruktur dan manager terkait, untuk itu perlu diciptakan adanya keterpaduan peran dan fungsi guru serta instruktur sebagai pelaku pendidikan yang terlibat langsung dalam pelaksanaa PSG dilapangan secara kondusif.

Upaya merealisasikan kebijakan link and match melalui pelaksanaan PSG selain diperlukan guru SMK yang profesional, diperlukaninstruktur yang mewakili dunia usaha/industri yang profesional pula. Instruktur dalam PSG memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam menentukan keberhasilan peserta PSG. Sehingga salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan pelaksanaan PSG adalah guru dan instruktur, oleh sebab itu baik guru maupun instruktur dituntut memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing dalam PSG. Prinsip kerjasama industri antara sekolah dengan dunia kerja pada akhirnya mempunyai tujuan untuk mempercepat waktu penyesuaian bagi lulusan Sekolah Kejuruan dalam memasuki dunia kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu sekolah menengah kejuruan. Pelaksanaan kerjasama sekolah dengan dunia kerja merupakan suatu strategi dalam mengatasi keterbatasan sumbe rdaya yang ada di sekolah dalam rangka mengembangkan sekolah. (Farnila. 2013).

Praktek Kerja Industri yang disingkat dengan “prakerin” merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh setiap peserta didik di Dunia Kerja, sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sistem pendidikan di SMK yaitu Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Program prakerin disusun bersama antara sekolah dan dunia kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan peserta didik dan sebagai kontribusi dunia kerja terhadap pengembangan program pendidikan SMK. (Sugihartono. 2009)

Praktek kerja industri adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesionalyang memadukan secara sistematik dan terintegrasi antara program di sekolah dan penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan langsung di dunia usaha/industri akan terarah untuk mencapai tingkat keahlian profesional tertentu.Tujuan Umum dari prakerin adalah;

  1. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat akademik dan kompetensi sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
  2. Memperoleh Link and Match antara sekolah dan dunia kerja.
  3. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas dan profesional.
  4. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
  5. Pemenuhan kompetensi sesuai tuntutan kurikulum.
  6. Penguasaan kompetensi dilakukan melalui pembelajaran di sekolah dan dunia kerja mitra dengan rancangan pembelajaran oleh sekolah dan industri.
  7. Implementasi kompetensi ke dalam dunia usaha/industri.
  8. Sarana aktualisasi bahwa apa yang dimiliki berguna bagi dirinya dan orang lain.
  9. Penumbuhan etos kerja/pengalaman kerja.
  10. Memperkenalkan lebih dini lingkungan sosial yang berlaku di dunia usaha/industri.
  11. Menumbuhkan sikap kerja dan kepribadian yang utuh sebagai pekerja.

Rancangan prakerin sebagai bagian pembelajaran perlu memperhatikan kesiapan Dunia Kerja mitra dalam melaksanakan pembelajaran kompetensi tersebut. Hal ini diperlukan agar dalam pelaksanaannya, penempatan peserta didik untuk prakerin tepat sasaran sesuai dengan kompetensi yang akan dipelajari.  Dalam perancangan program prakerin perlu dilakukan analisis terhadap kemampuan-kemampuan yang harus dikuasai peserta didik berdasarkan tuntutan standar kompetensi/ kompetensi dasar yang tertera dalam silabus. Analisis dimaksudkan untuk mendapatkan informasi kompetensi apa saja yang dapat dipelajari di sekolah dengan fasilitas yang tersedia dan kompetensi apa saja yang dipelajari di dunia kerja.

Untuk menjadi Negara industri, negara tersebut harus mempersiapkan tenaga kerja dan tenaga ahli berkualitas yang siap untuk bekerja, caranya adalah dengan memajukan pendidikan vokasi dan kejuruan agar mampu menghasilakan tenaga kerja yang berkopentensi dan siap untuk bekerja. Demikianlah ulasan mengenai Pendidikan Vokasi dan Kejuruan dalam artikel inisemoga ulasan dalam artikel ini dapat memberikan gambaran tentang pentingnya pendidikan vokasi dan kejuruan.

Terima Kasih…!!! 🙂